SAINS VERSUS AGAMA PENGALAMAN KRISTEN-BARAT



Oleh: Dr. Adian Husaini 
Ketua Umum DDII Pusat


Lenteraumat.com,Depok-
Dunia Kristen-Barat memiliki sejarah khusus tentang benturan antara sains dengan ajaran agama Kristen. R. Hoykaas dalam bukunya, G.J. Rheticus Treatise on Holy Scripture and the Motion of The Earth (North Hollad Publishing Company, 1984), menjelaskan, bahwa bagi kelompok literal Kristen, penganut metode literalisme, ayat-ayat Bible tentang alam semesta haruslah diartikan secara literal, dan lebih dari itu, dasar-dasar kosmologi harus diambil dari Bible. 

Sebagai implikasinya, misalnya, ketika ada konsep “waters above the expanse” (air adalah di atas tanah atau udara), yang bertentangan dengan prinsip dasar Aristotelian --  bahwa alam telah menempatkan air di bawah udara, api, dan benda-benda langit. 

Dalam kasus konflik seperti itu, teks Bible harus dimenangkan atas konsep filsafat “kafir” Aristotle. Tokoh-tokoh gereja Syria yang ingin agar kosmologi bebas dari pengaruh paganisme, menempatkan konsep kosmologi versi Bible  berhadapan dengan konsep kosmologi Yunani. 
Abad ke-6 M, penulis Kosmas Indikopleustes menyusun konsep ekstrim bahwa bumi itu datar, sebab Bible (New King James Version) menyatakan: “That it might be take hold of the ends of the earth, and the wicked be shaken out of it.” (Job, 38:13). Juga, “After these things I saw four angels standing at the four corner of the earth, that the wind should not blow on the earth, on the sea, or on any tree.” (Revelation, 7:1). 

Dalam teks Bibel versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Ayub 38:3 diterjemahkan: “untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang-orang fasik dikebaskan daripadanya.” Sedangkan ayat Wahyu-wahyu 7:1 diterjemahkan: “Kemudian daripada itu, aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keeempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.”

  *****

Berdasarkan metode tafsir literal (tekstual), maka fakta sains, bahwa bumi bulat, harus dikalahkan oleh teks Bible. Jadi, menurut mereka, bumi memang segi empat, memiliki tepi, sehingga “orang jahat” bisa dibuang dari bumi. 
Sejarah Kristen menunjukkan, otoritas Gereja pernah menghukum ilmuan seperti Galileo Galilei (1564-1642), karena mengekspose teori “heliocentric”;  bahwa matahari adalah pusat tata surya.  Hal itu dilakukan untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan Gereja – yang mempunyai doktrin infallibility (tidak pernah salah) karena merupakan wakil Kristus di muka bumi. 

Sampai abad ke-17, Gereja masih tetap berusaha mempertahankan posisi hegemoninya, sehingga berbagai hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi Gereja, dianggap sebagai “heresy” (kafir) dan dihadapkan ke Mahkamah Inquisisi. Kasus yang terkenal terjadi pada ilmuwan Galileo Galilei.  Pada 19 Januari 1616, Galileo membuat dua statemen: (1) matahari adalah pusat galaksi dan (2) bumi bukanlah pusat tata surya. 
Pada 24 Februari 1616, sekelompok pakar teologi yang dibentuk oleh Tahta Suci Vatikan (Holy Office) menyatakan, bahwa teori Galileo itu bertentangan dengan Bible. Maka, Paus Paul V, meminta Cardinal Bellarmine untuk memperingatkan Galileo. 
Tetapi, pada 1632, Galileo kembali mengajarkan teorinya itu. Maka, pada 16 Juni 1633, Galileo diinterogasi karena  dipandang melakukan kesalahan dalam Teologi, dengan menyebarkan teori “heliocentric”. Ia diundang ke Roma dan dipaksa oleh Mahkamah Inquisisi untuk mencabut teorinya dan mengikuti doktrin Gereja bahwa bumi adalah pusat tata surya. 
Di depan Inquisitor, Galileo akhirnya ‘bertobat; dan berjanji tidak akan menyebarkan lagi teori heliosentrisnya itu. Di depan Mahkamah Gereja itu, Galileo menyatakan akan menghapus semua opini yang salah,  bahwa matahari adalah pusat dari jagad raya dan tidak bergerak; dan bahwa bumi bukanlah pusat jagad raya dan bergerak. 
Ia berjanji tidak akan mempertahankan atau mengajarkan doktrin yang salah tersebut, dalam bentuk apa pun, secara verbal atau melalui tulisan. (Lihat, Robert Lomas, The Invisible College, (London: Headline Book Publishing, 2002.  Juga,  Father William G. Most, Catholic  Apologetics Today, (Rockford: Tan Books and Publisher Inc., 1986)). 
Sebelumnya, Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang Astronom dan ahli matematika sudah mengemukakan teori heliocentric itu. Sadar bahwa teorinya akan menimbulkan kontroversi, Copernicus menolak untuk mempublikasikan teorinya. Tapi, atas desakan teman-temannya, pada tahun 1543 ia menerbitkan bukunya yang berjudul  On the Revolutions of the Heavenly Spheres. 
Teori Copernicus menakutkan penguasa Gereja, karena dianggap bertentangan dengan Bible. Sebagai contoh, disebutkan dalam Mazmur (Psalm) 93 ayat 1: “Yea, The world is established, it shall never be moved.” Tahun 1616, Gereja menempatkan buku On The Revolution dan buku-buku lain yang menjelaskan tentang perputaran bumi,  ke dalam daftar buku-buku yang  terlarang. (Lihat, Marvin Perry, Western Civilization, (Boston: Houghton Mifflin Company, 1997).  
Perlu dicatat, bahwa problema benturan antara sains dan Bible itu terjadi pada abad Pertengahan Eropa (500-1500 M). Zaman ini dikenal sebagai Medieval Europe atau “The Dark Ages of Europe”.  Tapi, kasus-kasus serupa masih berlanjut pada pada zaman pencerahan (enlightenment). Orang Eropa menyebut zaman ini sebagai zaman renaissance, yang artinya zaman ‘kelahiran kembali’ (rebirth). 

Mereka merasa, bahwa selama ratusan tahun, mereka telah mati, hidup di bawah cengkeraman kekuasaan Gereja. Karena itulah, pada zaman pencerahan mereka  melakukan revolusi besar-besaran terhadap berbagai pemikiran tentang kehidupan, termasuk terhadap konsep keagamaan. Inti zaman pencerahan ini adalah zaman merebaknya paham  “sekularisme, humanisme, dan liberalisme”. 

*****

Pengalaman di Barat dalam soal benturan antara sains dengan kitab suci, patut kita jadikan pelajaran. Karena kasus-kasus seperti itu, peradaban Barat kemudian melakukan sikap ekstrim dengan memisahkan agama dan sains secara total. Tidak boleh mencampuradukkan antara sains dan agama. Inilah sains sekuler yag dilepaskan dari agama, yang pasti merusak.
Pola pikir seperti inilah yang masih dipaksakan pada sebagian pengajaran sains di sekolah-sekolah kita. Misalnya, kesimpulan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia itu berasal dari bangsa kera (hominid). Dalam sebuah buku sejarah untuk SMA ditulis:  “Agama berada dalam tingkat eksistensial dan transendental (soal rasa, soal hati), sedangkan sains berada dalam tingkat faktual (soal pembuktian empiris). Dengan kata lain, agama dan sains memiliki otonomi masing-masing... Singkatnya, agama dan sains (ilmu pengetahuan) tidak perlu dicampuradukkan.” 

Islam tidak mengalami trauma sejarah berupa benturan antara al-Quran dan sains. Sepatutnya, pengajaran sains kita di sekolah-sekolah sudah harus sejalan dengan al-Quran dan Hadits Nabi saw. Inilah pentingnya konsep ilmu dalam Islam diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Tujuannya, agar mereka mengenal konsep ilmu yang integral, yang memadukan ketiga sumber ilmu: panca indera, akal, dan berita yang benar. 

Jadi, sudah sepatutnya, umat Islam Indonesia memiliki konsep pengajaran sains sendiri. Umat Islam harus berani mengambil sains dan teknologi dari peradaban mana saja, dengan tetap bersikap kritis. di Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 1 Agustus 2021).