BENTURAN PERADABAN ATAU PENJAJAHAN PERADABAN



Oleh: Dr. Adian Husaini 
Ketua Umum DDII Pusat


Lemteraumat.com,Depok-
Dalam bukunya, Islam di Simpang Jalan, Muhammad Asad menulis:  “Peradaban Barat modern tidak mengakui perlunya penyerahan manusia 
kepada apa pun kecuali tuntutan-tuntutan ekonomi, sosial, dan kebangsaan. Dewanya yang sebenarnya bukanlah kebahagiaan spiritual melainkan keenakan, comfort. Dan falsafahnya yang riil dan hidup dilahirkan dalam kemauan untuk berkuasa demi untuk kekuasaan itu sendiri. Keduanya diwarisi dari peradaban Romawi Kuno.”  Konsep “keadilan” bagi Romawi, menurut Asad, adalah ”keadilan” bagi orang-orang Romawi saja.  Sikap semacam itu hanya mungkin terjadi dalam peradaban yang berdasarkan pada konsepsi hidup yang sama sekali materialistik. (Muhammad Asad, Islam di Simpang Jalan, Bandung: Pustaka, 1983).
Pada 3 Januari 2002, International Herald Tribune menurunkan artikel berjudul “America’s Empire Rules an Unbalanced World”, yang ditulis Prof. Robert Hunter Wade,  guru besar ekonomi politik di London School of Economics. 
Dalam tulisannya itu, Wade menyamakan posisi AS di dunia saat ini, seperti posisi Imperium Romawi (Roman Emperor) yang berlaku sewenang-wenang terhadap dunia.  Benarkah posisi Amerika Serikat (AS) saat ini identik dengan posisi 
“Roman Empire”? 
Melalui tesisnya, “benturan antar peradaban”  (the clash of civilizations), 
Samuel P. Huntington  menyorot faktor “ideologi”  sebagai unsur penting dalam perumusan pola hubungan internasional dan pembentukan Tata Dunia Baru. 
Dia katakan, bahwa benturan peradaban adalah ancaman terbesar  perdamaian dunia, sehingga suatu tatanan internasional yang didasarkan pada peradaban-peradaban adalah pencegah Perang Dunia yang paling aman. (clashes of civilizations are the greatest threat to world peace, and an international order based on civilizations is the surest safeguard against world war). (Huntington, The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order, 1996).
Mengutip Braudel, Huntington menyatakan, peradaban (civilization), adalah suatu area kultural, yakni suatu himpunan fenomena dan karakteristik 
budaya.   Sedangkan oleh Durkheim dan Mauss, peradaban didefinisikan sebagai “suatu corak dari lingkungan moral yang meliputi jumlah negara tertentu, dimana masing-masing kultur negara hanya menjadi bagian pembentuk dari keseluruhan peradaban”. 

Diantara unsur-unsur pembentuk peradaban – bahasa, agama, pandangan hidup, norma, institusi – agama merupakan unsur terpenting.  Agama merupakan pusat pembentukan karakteristik suatu peradaban, sebagaimana dikatakan oleh Christopher Dawson, “agama-agama besar merupakan fondasi bagi bertahannya peradaban-peradaban besar.” 
Huntington menyebutkan, kini ada sejumlah peradaban kontemporer yang 
eksis di dunia, yaitu: Cina, Jepang, Hindu, Islam, Orthodoks, Barat, Amerika Latin, Afrika, Budha. Peradaban Islam lahir di Jazirah Arab pada abad ke-7 yang menyebar dengan cepat ke Afrika Utara, Eropa, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.  Sedangkan peradaban Barat meliputi Eropa, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru. Istilah “Barat” secara universal digunakan untuk menunjuk apa yang biasa disebut sebagai Dunia Kristen Barat (Western Christendom). (Huntington, The Clash of Civilizations).

Suatu peradaban yang “menguasai” peradaban lain selalu berusaha 
menyebarkan nilai-nilai peradabannya ke peradaban yang dikuasainya. Dalam 
istilah Robert Gilpin, hal itu sudah merupakan pola yang berulang (recurrent pattern).   Kata Gilpin, “The recurrent pattren in every civilization of which we have knowledge was for one state to unify the system under its imperial domination.” (Robert Gilpin, War and Change in World Politics, 1982).

Imperialisme, menurut Dieter Nohlen, adalah politik yang bertujuan menguasai dan mengendalikan bangsa-bangsa lain di luar batas negaranya, baik secara langsung (melalui perluasan wilayah) atau secara tidak langsung (mendominasi politik, ekonomi, militer, budaya). Bangsa yang dikuasai itu sebenarnya tidak suka dan menolak tekanan serta pengaruh negara imperialis. (Nohlen, Kamus Dunia Ketiga, 1994).
Teori “Clash of Civilization”, menurut Steinberg, adalah teori yang dikembangkan oleh Profesor Harvard University yang menjadi penasehat keamanan Presiden Carter, yaitu Zbigniew Brzezinski dan sejumlah anak didiknya, termasuk Samuel P. Huntington. Brzezinski bermaksud menggunakan “kartu Islam” untuk melawan Uni Soviet, dan setelah itu memposisikan Islam fundamentalis untuk behadapan dengan Islam moderat serta pemerintahan Arab/dunia Islam yang pro-Barat. 
 
Jika benar analisis Steinberg, berarti dunia sedang menghadapi – bukan 
hanya ancaman konflik peradaban “clash of civilization”  -- tetapi juga perang peradaban atau “war of civilization”.  Sikap AS yang terus-menerus membela aksi-aksi teror dan penjajahan Israel, disebut Paul Findley sebagai bentuk hubungan kolutif (collusive relationship) yang membahayakan masa depan AS sendiri: 
"AS memberikan dukungan (kepada Israel) yang tanpa dukungan AS itu, Israel tidak akan mampu melanjutkan penindasan atas hak asasi manusia dan ekspansi wilayahnya.  Hubungan kolutif ini sangat merusak pengaruh AS ke seluruh dunia. Ini akan membawa pemerintah AS untuk menjalankan praktik memalukan dengan membutakan mata atas pelanggaran yang dilakukan Israel, baik terhadap hukum internasional maupun hukum AS, suatu kebiasaan yang dicatat oleh para pemimpin manca negara." (Findley, Deliberate Deceptions-Facing the Facts about the US-Israeli 
Relationship,  1993).
Jadi, tesis the clash of civilizations Samuel Huntington sebenarnya tidak terlalu 
tepat. Yang tepat terjadi saat ini adalah suatu “penjajahan peradaban”. Yang ada saat ini adalah dominasi dan hegemoni peradaban Barat terhadap peradaban Islam dan peradaban lain. Hegemoni itulah yang hendak terus dilestarikan dengan memunculkan musuh bernama “Islam”. “It is human to hate,” kata Huntington dalam pengantar bukunya.

Fawaz A Gerges, dalam bukunya America and Political Islam: Clash of Cultures or Clash of Interests (1999) menempatkan Huntington sebagai “ilmuwan konfrontasionis” terhadap “Islam  fundamentalis”. Kelompok ilmuwan ini menempatkan “Islam fundamentalis” seperti kelompok totalitarian komunis yang anti demokrasi dan anti Barat.  Kaum konfrontasionis ini menganggap bahwa pertarungan antara Islam dan Barat tidak hanya pada kepentingan politik dan materi, tapi merupakan clash kebudayaan dan peradaban.  Islam dinyatakan akan menggantikan komunisme sebagai ancaman utama pasca Perang Dingin.  “The new threat is as evil as the Old Evil Empire,” kata Charles Krauthammer, ilmuwan AS lainnya. 

Umat Islam tidak boleh berdiam diri dan terus menyalahkan pihak lain atas kelemahan peradabannya. Umat Islam harus menjadi umat yang kuat dan umat terbaik. “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah,” begitu pesan Nabi kita saw.  (Depok, 30 Juli 2021).

Editor: Sudono Syueb