RAHMA EL-YUNUSIYYAH: IBU PENDIDIKAN INDONESIA



Oleh: Dr. Adian Husaini 


Lenteraumat.com,Depok-
Rahmah el-Yunusiyyah adalah salah satu pelopor pendidikan di Indonesia. Dialah perempuan Indonesia pertama yang mendapat gelar kehormatan “syaikhah” dari Universitas al-Azhar Kairo, Mesir. Bahkan, mengikuti jejak Rahmah, al-Azhar kemudian ikut mendirikan pendidikan khusus putri. 
Pada tahun 1950, Rektor Universitas al-Azhar Mesir, Dr. Syekh Abdurrahan Taj dan timnya mengadakan kunjungan ke Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, yang didirikan dan dipimpin Rahmah el-Yunusiyyah. Lembaga pendidikan inilah yang kemudian menginspirasi berdirinya Kulliyyatul lil-Banat.

Karena terkesan dengan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, maka pada tahun 1957, Universitas al-Azhar mengundang Rahmah ke Kairo. Ia menjadi tamu istimewa. Ketika itulah, Rahmah dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh al-Azhar dan berhak menyandang gelar syaikhah. Inilah gelar pertama yang diberikan oleh al-Azhar kepada seorang perempuan. 

Taufik Ismail menulis: “Buya A. Karim Amrullah adalah tokoh Indonesia pertama yang menerima Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar (universitas tertua di dunia) pada tahun 1926, berdua dengan Buya Abdullah Ahmad dari Padang. Tokoh ketiga adalah Etek Rahmah el-Yunusiyyah dari Diniyyah Putri Padang Panjang pada tahun 1957. Doctor Honoris Causa keempat adalah Buya Hamka…” 

Gelar syaikhah dari Universitas al-Azhar adalah gelar kehormatan yang sangat tinggi dalam dunia pendidikan bagi seorang perempuan. Itu terjadi di tahun 1957, saat Rahmah el-Yunusiyyah berumur 57 tahun. Rahmah lahir di Padang Panjang, pada 29 Desember 1900. 
Tokoh-tokoh dari Sumatera Barat yang lahir sekitar tahun-tahun itu diantaranya: Haji Agus Salim lahir 8 Oktober 1884; Ruhana Kudus pada 20 Desember 1884; Mohammad Hatta pada 12 Agustus 1902; Mohammad Yamin pada 28 Agustus 1903; Hamka lahir pada 17 Februari 1908; Mohammad Natsir pada 17 Juli 1908.
Dengan gelar syaikhah dari al-Azhar maka Rahmah el-Yunusiyyah telah menunjukkan kelasnya sebagai ulama perempuan dan tokoh pendidikan Indonesia. Karya dan keleporannya dalam dunia pendidikan di Indonesia sangat fenomenal, sehingga universitas al-Azhar mencontohnya. 

Sepatutnya, peristiwa ini senantiasa diingat selalu oleh insan pendidikan Indonesia. Dan tidak ada salahnya, jika pemberian gelar “syaikhah” kepada Rahmah el-Yunusiyah itu dijadikan sebagai momentum penting kebangkitan pendidikan Indonesia. Ini prestasi besar bagi bangsa Indonesia. Momentum ini tidak kalah penting dari diraihnya gelar juara sepak bola dunia oleh Indonesia (semoga akan terjadi beberapa tahun mendatang). 
Kiprah Rahmah el-Yunusiyyah dalam pendirian Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, sangatlah menakjubkan. Upayanya ini tak lepas dari perjuangan umat Islam Indonesia yang memberikan respon terhadap pendidikan model Barat yang dijalankan pemerintah kolonial. Pada usia 19 tahun Rahmah telah menjadi guru al-Quran. Ia memiliki ilmu dan pengalaman yang cukup dalam pendirian suatu Perguruan Khusus untuk anak-anak perempuan.

Maka, pada 1 November 1923, Rahmah mendirikan “Perguruan Diniyyah Putri”. Ketia itu diberi nama “al-Madrasatul Diniyyah lil-Banat”. Rahmah berpendirian, bahwa pendidikan untuk kaum putri akan lebih maksimal jika tidak digabung dengan pendidikan laki-laki. Dengan pertimbangan tertentu, akhirnya nama “Perguruan Diniyyah Putri” diganti dengan “Diniyyah Putri School.”
Pada awal pendiriannya, Diniyyah Putri School ini tidak memiliki gedung. Sekolah ini hanya menempati sebuah serambi masjid  di dekat rumahnya. Tak ada bangku, kursi, atau papan tulis. Para murid duduk bersila mendengarkan gurunya. Buku-buku yang dipakai berbahasa Arab dan guru-guru memberikan pelajaran dalam bahasa Indonesia. 

Kemudian, sekolah ini menyediakan asrama bagi remaja putri. Tapi, asrama itu pun masih menyewa di rumah toko (ruko). Tahun 1925, ada 60 murid yang tinggal di ruko tersebut. Tahun 1926, terjadi musibah gempa bumi di Padang Panjang dan daerah-daerah lain di Sumatera Barat, dengan kekuatan 7,8 skala richter. Bangunan sekolah Rahmah hancur, dan seorang gurunya meninggal. 

Namun, Rahmah tidak berhenti membangun sekolahnya. Ia terus berjuang mengembangkan sekolahnya. Bahkan, karena keterbatasan biaya, ia harus berkeliling di sejumlah daerah Sumatera dan Semenanjung Melayu. Meskipun terus berkembang, namun suatu ketika sekolah ini juga mengalami musibah. Tahun 1935, karena tidak mampu membayar utang, sekolah Rahmah disita pengadilan. Alhamdulillah, tokoh-tokoh Minang di Jakarta, seperti Haji Agus Salim kemudian membantu pengggalangan dana dan melunasi utang sekolah Rahmah.

Itulah sekilas kepeloporan Rahmah el-Yunusiyyah dalam dunia pendidikan. Maka, tidak berlebihan kiranya, jika ia diberi gelar sebagai  “Ibu Pendidikan Indonesia”. (Kisah Rahmah el-Yunusiyyah ini dapat dibaca lebih lanjut dalam buku berjudul: Rahmah el-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia, (Yogya: Matapadi Pressindo, 2021), karya Hendra Sugiantoro). 

*****

KONSEP PENDIDIKAN PEREMPUAN 
TINGKAT MENENGAH 
(Studi Pemikiran Pendidikan Rahmah El-Yunusiyah 
Dan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang 
Sumater Barat

Pada 2019 lalu, konsep pendidikan Rahmah el-Yunusiyyah juga diangkat menjadi satu disertasi doktor pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor, oleh Dr. Ali Murtadlo. Judulnya: Konsep Pendidikan Perempuan Tingkat Menengah (Studi Pemikiran Pendidikan Rahmah el-Yunusiyyah dan Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang Sumatera Barat).  
Menurut Dr. Ali Murtadlo, tujuan pendidikan Rahmah el-Yunusiyyah adalah mencetak putri-putri muslimah berjiwa Islami dan ibu pendidik yang cakap mandiri, dengan tiga karakter utama: ahli ibadah dan berakhlakul karimah, kuat dan tegar sebagai mujahid Allah, serta cerdas sebagai khalifah fil-ardl. 

Tekanan pembentukan perempuan sebagai pendidik sangatlah penting. Peran pendidik adalah begitu mulia dan strategis dalam menyiapkan generasi unggul ke depan. Karena itulah, perempuan dituntut untuk memiliki ilmu yang tinggi, sehingga bisa menjalankan tugas sebagai pendidik dengan sebaik-baiknya. 

Rahmah el-Yunusiyyah telah membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu berprestasi tinggi dalam keilmuan, pendidikan, politik, bahkan militer. Namun, Rahmah el-Yunusiyyah tetap menekankan pentingnya perempuan menjadi hamba Allah yang shalilah. 
Semoga sekelumit kisah dan prestasi perjuangan Rahmah el-Yunusiyyah ini bisa menginspirasi banyak perempuan muslimah lainnya untuk berprestasi tinggi tanpa meninggalkan fitrahnya sebagai perempuan. Aamiin. (Depok, 28  Juli 2021). 
KONSEP PENDIDIKAN PEREMPUAN 
TINGKAT MENENGAH 
(Studi Pemikiran Pendidikan Rahmah El-Yunusiyah 
Dan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang 
Sumater Barat
KONSEP PENDIDIKAN PEREMPUAN 
TINGKAT MENENGAH 
(Studi Pemikiran Pendidikan Rahmah El-Yunusiyah 
Dan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang 
Sumater Barat

KONSEP PENDIDIKAN PEREMPUAN 
TINGKAT MENENGAH 
(Studi Pemikiran Pendidikan Rahmah El-Yunusiyah 
Dan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang 
Sumater Barat
KONSEP PENDIDIKAN PEREMPUAN 
TINGKAT MENENGAH 
(Studi Pemikiran Pendidikan Rahmah El-Yunusiyah 
Dan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang 
Sumater Barat)

Editor: Sudono Syueb