MISI TUNGGAL RASUL: TEGAKNYA TAUHID

Dr. Slamet Muliono Redjosari


Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Anggota Bidang Pemikiran Islam DDII, Jatim 

Lenteraumat.com,Surabaya-
Diutusnya rasul di tengah masyarakat tidak lain untuk mengajak manusia untuk mengingat akan kebesaran dan karunia Allah, serta menunjukkan jalan cara mentauhidkannya. Sebagai utusan Allah rasul menunjukkan cara mengagungkan Allah dengan cara pengabdian dan beribadah yang baik dan benar. Rasul juga menunjukkan bahwa mentauhidkan Allah merupakan puncak peribadatan yang harus dilakukan oleh manusia setelah memperoleh berbagai fasilitas di dunia ini. Keberadaan rasul untuk menghindari berbagai penyimpangan dan cara penyembahan yang salah. Cara pengagungan yang salah itulah menunjukkan manusia tidak mengenal Allah secara benar. Kesalahan besar umat ini ketika ajaran yang ditunjukkan yang merujuk pada ajaran tidak selalu diikuti, dan tidak jarang menilainya sebagai ajaran tak sesuai dengan zaman. Bahkan ketika diajak untuk berpegang teguh terhadap apa yang diajarkan rasul, para tokoh masyarakat justru bersekongkol mengikisnya. 

Misi Besar Seorang Rasul

Misi besar dan bersifat tunggal seorang rasul adalah menyampaikan sebuah petunjuk kepada manusia bahwa Allah sajalah yang wajib disembah dan menjauhkan dari peribadatan kepada selain Allah. Allah menunjukkan bahwa jalan kesesatan sangat beragam dan tidak sedikit manusia yang terkecoh sehingga mengikutinya. Agar manusia tidak terkecoh akan jalan yang menyesatkan itu, maka Allah mengutus seorang rasul. Hal ini sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya : 

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt,” kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl : 36)

Allah juga menunjukkan bahwa banyak manusia yang sudah terikat dengan penyembahan terhadap makhluk, yang dianggapnya bisa memberi kehidupan pada dirinya. Keterikatan manusia terhadap mahkluk itu hingga takut untuk meninggalkannya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

Dan milik-Nya meliputi segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan kepada-Nyalah (ibadah dan) ketaatan selama-lamanya. Mengapa kamu takut kepada selain Allah? (QS. An-Nahl :  52)

Sedemikian takutnya untuk melepaskan diri dari ikatan dari mahkluk itu, manusia rela berkorban untuk melakukan perlawaanan terhadap rasul. Tidak sedikit perlawanan terhadap rasul itu dilakukan dengan menolak dengan halus, dan tidak sedikit menolaknya dengan kasar. Penolakan dengan kasar itu hingga mengancam, mengusir, hingga melakukan pembunuhan terhadap rasul. Apa yang dialami Nabi Muhammad ketika Abu Jahal secara kolektif melakukan perlawanan hingga menggerakkan kaum Quraisy untuk mengancam Nabi hingga mengusir para sahabatnya, merupakan contoh penolakan terhadap ajaran Islam.

Rasul pun tidak gentar menghadap permusuhan yang begitu keras hingga menunjukkan bahwa dirinya sekedar menyampaikan pesan kenabian dan tidak ingin memperoleh imbalan apapun. Kesabaran Bai dan para sahabatnya ditunjukkan dengan rela dan ikhlas berhijrah ke negeri Madinah, dan menyusun kekuatan disana, serta menyemai tegaknya ajaran tauhid. 

Ujian terbesar yang dialami Nabi, ketika terjadi perang Badar. Saat itu jumlah umat Islam sangat sedikit dan tak berimbang dengan kekuatan kafir Quraisy. Tetapi kegigihan dalam berjuang dalam menegakkan nilai-nilai tauhid itu mendatangkan pertolongan Allah sehingga berhasil mengalahkan musuh-musuh tauhid ini. Kemenangan Nabi dalam perang Badar itu berhasil menggaungkan Islam dimana dunia saat itu. Karena Islam dengan jumlah sedikit namun berhasil menumbangkan kekuasaan Quraisy dengan kekuatan yang berlipat-lipat. 

Bertauhid Sebagai Ujian Besar

Para Nabi telah memberikan contoh agung dalam menghadapi tantangan ketiks memegang teguh nilai-nilai tauhid. Salah satu bentuk kesabaran seorang rasul ketika datang musibah yang menimpa kaumnya. Kaumnya justru menuduh nabi sebagai sebab datangnya musibah. Tuduhan itu dikaitkan dengan ajaran yang disampaikan nabi yang dianggap menentang kepercayaan yang selama ini dipegang teguh oleh kaumnya.

Dalam menghadapi tuduhan dan sasaran kebencian itu, nabi bukannya mundur, tetapi justru tetap gigih dalam berdakwah. Nabi lalu mengajak kaumnya untuk berpikir bahwa kepercayaan terhadap tuhan yang salah justru mendatangkan musibah. Nabi mengajak kaumnya untuk mengajak dan mengingat Allah serta meminta bantuan kepada-Nya. Dengan mendekat dan meminta pertolongan kepada Allah, nabi terus meyakinkan kaumnya bahwa menghilangkan musibah merupakan hal mudah bagi Allah. Bahkan Allah dengan mudah akan mengganti musibah dengan kenikmatan. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya : 

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. (QS. An-Nahl : 53)

Dalam ayat ini termaktub bahwa dua kutub, kenikmatan dan kesengsaraan, dalam kekuasaan Allah. Ketika seorang hamba berbuat dzalim maka Allah membiarkan penderitaan dan kesengsaraan meliputinya, dan tidak menghentikannya. Sebaliknya ketika seorang hamba berbuat sesuai dengan petunjuk-Nya, maka Allah berkuasa untuk menghentikan musibah dan menggantinya dengan kenikmatan dan kebahagiaan. 

Hampir seluruh utusan Allah mengalami tantangan besar karena berupaya menegakkan
Hampir seluruh utusan Allah mengalami tantangan besar karena berupaya menegakkan nilai-nilai tauhid. Salah satu contohnya, apa yang dialami Nabi Muhammad. Sebelum diangkat menjadi rasul, beliau dikenal sebagai orang yang amanah dan sangat dicintai kaumnya. Fenomena menjadi terbalik, saat beliau diangkat menjadi rasul dan mendakwahkan tauhid. Saat itu, beliau dimusuhi dan mengalami perlawanan dahsyat hingga terusir dari kampung halamannya.  
Surabaya, 13 Juli 2021

Editor: Sudono Syueb