KISAH CERIA BERSAMA CORONA



Oleh : Firman Syah Ali

Lenteraumat.com,Surabaya-
Tanggal 21 Juni lalu isteri saya mulai gejala corona, tanggal 22 Juni anak-anak (Raja, Ratu dan Sultana) langsung saya amankan ke Madura, diasuh oleh tante saya Tante Marwiyatun atau Nyammar. Tanggal 23 Juni anak-anak mainan kubur-kuburan, saya marahi suruh jangan main kubur-kuburan, ternyata beberapa hari kemudian Kakak kandung isteri saya Mbak Mila mendadak meninggal dunia karena Corona.

Jum'at Malam tanggal 25 Juni anak-anak saya pindah dari Pamekasan Madura ke rumah adik saya Inni Fathimiyah di Jombang. Itu saya masih sehat, kuat nyetir nonstop Pamekasan-Jombang-Surabaya.

Sesampainya di Surabaya, Sabtu tanggal 26 Juni, saya antarkan isteri Swab PCR di RS PHC Surabaya dan hasilnya positif Covid-19. Setelah ditracking jelas ketularan dikantornya, Biro Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur yang waktu itu tetap WFO total walaupun corona sedang merajalela. 26 orang pejabat dan staf Biro Organisasi Kantor Gubernur Jatim resmi tertular secara berjamaah, dan 26 orang tersebut menulari keluarganya masing2 hingga total 100 lebih orang dan meninggal dunia 3 orang.

Saya termasuk keluarga yang ditulari itu. Ya saya ketularan isteri karena saya yang mengantar isteri swab dan sebagainya. Gejala yang dirasakan isteri saya adalah demam, panas, pusing, batuk, sesak nafas, nyeri dada, ruam kulit dll. Anak saya yang berusia dua bulan tidak bisa lepas dari isteri saya karena memang masih menyusu, akhirnya anak saya ikut panas selama 5 hari, kasihan masih bayi sudah ikutan kena corona.

Tanggal 28 Juni saya antar isteri tracking ke Puskesmas Sidotopo Wetan, juga antar keponakan saya Feri swab antigen yang hasilnya Positif. Berarti di rumah saya ada 3 orang penderita Corona yaitu isteri saya, keponakan saya dan bayi saya usia dua bulan. Keesokan harinya tanggal 29 Juni 2021 barulah saya sendiri yang swab PCR ke RS PHC Surabaya, hasilnya Negatif. Namun Sepupu saya dr Syaiful Hidayat yang kebetulan Ketua Satgas Covid-19 Pamekasan menyarankan saya swab PCR lagi  lima hari setelah setelah kontak erat terakhir dengan isteri.

Tanggal 29 Juni hingga 30 Juni saya Isolasi Mandiri di sebuah kos-kosan di Ketintang Surabaya, namun karena tidak kerasan saya akhirnya pindah ke Pamekasan Madura, tepatnya di Rumah Dinas Bakorwil Pamekasan. Saya Isoman di Rumah Dinas  Bakorwil Pamekasan sejak tanggal 30 Juni 2021 s/d tanggal 6 Juli 2021 (selama lima hari).

Selama 5 hari Isoman di Rumah Dinas Bakorwil saya ngantor seperti biasa, karena memang tidak ada WFH di kantor. Tanggal 1 Juli saya masih ikut rapat eselon III di ruangan Kabid Pengembangan Ekonomi. Tanggal 2 Juli masih ikut rapat PPKM Mikro secara online, tapi saya ikut dari Surabaya karena walau diri sendiri mulai merasakan gejala tidak enak badan namun tetap wira-wiri pamekasan-surabaya ngurusi kebutuhan isteri dan anak. Termasuk nganterkan pengobatan alternatif dari Habib Alwi Alhabsyi yang sakti Mandraguna. Tanggal 2 Juli itu itu dalam keadaan pusing berat saya masih rapat PPKM Darurat hingga larut malam, dihadiri Ibu Gubernur Jatim. Besoknya tanggal 3 Juli masih hadir rapat PPKM Darurat juga, dihadiri Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan dan Gubernur Jatim. 

Tanggal 3 Juli malam saya mulai drop dan hanya bisa berbaring tanpa daya dan upaya. Keluar sebentar cari makan ke sae salerana dianter sepupu saya Rosadi yang memang tidak takut Corona. Sepulang dari sae salerana saya dan rosadi main ke rumah tokoh madura yang tidak percaya corona, di sana saya dikerokin, dipijet dll. 

4 Juli badan semakin tidak enak namun makanan masih enak, sebab pagi harinya saya masih sarapan Kaldu Anda. Sementara berita duka terus mengalir secara masif antara lain Jane Shalimar, Kyai Tohir Bata-bata, Nom Yusuf Palduding dll.

Tanggal 5 Juli Suhu badan saya tinggi sehingga saya dikompres oleh Rosadi, selain itu saya mengalami insomnia (tidak bisa tidur), tiap kali mata mau terpejam badan langsung kaget dan kejang menolak tidur. Selama panas dan insomnia itu saya ditemani dengan setia oleh Rosadi.

Tanggal 6 Juli pagi saya Swab PCR di RS Moh Noer Pamekasan, difasilitasi oleh paman saya H Munaji. Pada hari itu juga saya ditelepon oleh Kepala Bakorwil Pamekasan Pak Alwi disuruh keluar dari rumah dinas, akhirnya saya pindah isolasi mandiri ke kampung halaman saya di Desa Plakpak Kec Pegantenan Kab Pamekasan. Saya tidak ngumpul satu rumah dengan ibu karena khawatir nulari Covid-19. Saya memilih tinggal di Musholla Al-Hasyimi, sebuah bangunan di pojok tanean lanjang yang terpisah dengan rumah. Awalnya saya menumpang salah satu kamar mandi di rumah ibu saya, namun karena takut nulari ibu, kemudian pindah ke kamar mandi belakang rumah H Herul yang memang tidak terpakai, lumayan serem dan angker di tepi jurang haha. Untuk wudlhu saya, Num H Munaji dan Man Jalinani membangun tempat wudlhu permanen di sisi kanan Musholla Al-Hasyimi, Alhamdulillah semoga menjadi amal jariyah. 

Penyakit tidak bisa tidur tetap melanda dan sulit diobati, CTM tidak mempan, obat psikotropika yang diresepkan dr Syaiful Hidayat sudah habis di berbagai apotik. Tanggal 7 Juli makanan mulai tidak enak, perut mual setiap mau dimasuki makanan.

Anehnya walaupun penyakit saya mengerikan, namun saudara-saudara saya seperti Num Hari, H Herul, Rosadi, Num H Munaji, Maulidi Sipil, Man Jelani, Num Jela ya jenguk seperti biasa, seperti jenguk orang sakit biasa. Tanpa takut tanpa beban apapun mereka menemani saya ngobrol tiap malam, agar saya tidak merasa sendirian, kesepian kemudian tertekan.

Tiap pagi ada nasi tenggang dari Nya Supadmi, terasa enak sekali walaupun lidah masih pahit. Uap air panas sehari dua kali dibuatkan oleh Ibunda. 

Tanggal 9 Juli siang, direktur RSUD dr Moh Noer Pamekasan dr Nono memberitahukan hasil swab PCR saya 6 Juli lalu, yaitu Positif Covid-19. 

Tanggal 10 Juli tetap insomnia (tidak bisa tidur) hari ke-8, makanan terasa tidak enak semua. Tanggal 11 Juli sabahat-sahabat akrabku berguguran, antara lain Sudarisman, Sri Budiono dll. Tanggal itu saya mulai sembuh dari insomnia berkat amalan Babun Nabi yang diberikan oleh guru spiritual saya dari Krampon Sampang. Setelah membaca sholawat Babun Nabi berkali-kali akhirnya berasa ada yang menyelimuti badan saya, sosok itu berpakaian putih dan wajahnya berupa cahaya, sayapun tertidur dan sejak saat itu sembuh dari penyakit insomnia. Resmi 8 hari saya menderita insomnia.

Tanggal 12 Juli seharian saya tirakat dzikir dll di rumah guru spiritual saya yang tidak takut corona di daerah Blumbungan. Tanggal 13 Juli Menkopolhukam Om Mahfud memimpin zoom meeting keluarga mendoakan semoga saya dan anggota keluarga lain segera sembuh dari Covid-19. 

Tanggal 16 Juli (hari kesebelas saya dinyatakan positif Covid-19) jam 2 pagi saya pulang ke Surabaya, ingin melanjutkan isoman di Surabaya. Tapi keesokan harinya, tanggal 17 Juli (hari keduabelas setelah dinyatatakan positif Covid-19) iseng-iseng saya swab Antigen di RS Sheila Medika Sedati Sidoarjo, ternyata hasilnya negatif. Berarti sudah tidak ada virus di dalam badan saya. 

Minggu 18 Juli 2021, hari ini, saya menulis catatan harian ini. Ini hari ketigabelas saya dinyatakan positif Corona. Saya resmi memberi nama bayi saya TSARINA CORONA ILMA, panggilannya RONA. Arti nama : Ratu bermahkotakan ilmu pengatahuan.

Besok, Senin, tanggal 19 Juli merupakan hari keempat belas, hari terakhir isolasi mandiri. Besok lusa, Selasa, tanggal 20 Juli 2021 saya akan jemput Raja, Ratu dan Sultana ke Jombang.  Kebetulan bersamaan dengan Idhul Adha 2021.