KI HADJAR DEWANTARA: KELUARGA ADALAH PUSAT PENDIDIIAN



Oleh: Dr. Adian Husaini
(www.adianhusaini.id)


Lenteraumat.com,Depok-
Tahun 1935, tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara sudah menegaskan, bahwa keluarga adalah pusat pendidikan. Bukan sekolah! Bahkan, menurut Ki Hadjar, keluarga merupakan pusat pendidikan individual, sekaligus pendidikan sosial (kemasyarakatan). 
Pemikiran Ki Hadjar itu ditulis dalam satu artikel berjudul 
“Keluarga Sebagai Pusat Pendidikan” yang dimuat di majalah “Wasita”, tahun I No. 3, Mei 1935. (Lihat: Kumpulan tulisan Ki Hadjar Dewantara yang diterbitkan Mejelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Buku I, tahun 2013, hlm. 374-378). 
Ki Hadjar mengritik pandangan yang menyatakan, bahwa keluarga adalah sekedar tempat pendidikan individual, sedangkan Perguruan (Sekolah) adalah tempat pendidikan sosial. 
“Menurut pendapat saya, alam keluarga itu adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk pendidikan sosial juga, sehingga bolehlah dikatakan, bahwa keluarga itulah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan ujudnya daripada pusat lain-lainnya, untuk melangsungkan pendidikan kearah kecerdasan budi pekerti (pembentukan watak individuil) dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan,” tulis Ki Hadjar. 

Bahkan, menurut Ki Hadjar, dunia perguruan (sekolah) yang dikatakan sebagai pusat pendidikan sosial, juga tidak sesuai dengan kenyataanya. Sistem persekolahan secara Barat semata-mata menjadi tempat pendidikan fikiran atau balai wiyata untuk menyiarkan ilmu pengetahuan serta mengusahakan kecerdasan intelek. 

Sekolah model Barat semacam itu, menurut Ki Hadjar Dewantara, hanya dapat memberi pengetahuan tentang hidup kemasyarakatan, bukan mendidik agar memiliki sikap sosial. “Selama rumah pengajaran masih bersifat “sekolahan”, yang terutama mendidik intelek serta mencaru pengetahuan, maka tidaklah mengherankan bahwa acapkali pendidikan sosial di situ terdesak (tak ada kesempatan secukupnya) dan terhambat dalam maksudnya (intelektualisme acapkali menentang kesosialan),” tulis Ki Hadjar Dewantara.

Alam keluarga bagi tiap orang adalah alam pendidikan yang permulaan. Orang tua bertindak sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan sebagai pemberi contoh. Sebagai guru atau penuntun, kewajiban orang tua dalam hal ini sudah berlaku dengan sendirinya. Peran ini bisa dimainkan orang tua di mana saja, bukan hanya orang tua yang berpendidikan tinggi. Menurut Ki Hadjar,  tiap-tiap makhluk memiliki naluri paedagogis. Orang tua tentu akan berusaha sebaik-baiknya  untuk kemajuan anaknya.

“Seorang penjahat sekali pun umumnya menutupi kejahatannya, jangan sampai dilihat atau ditiru anak-anaknya,” tulis Ki Hadjar. Meskipun, ada saja penjahat yang menarik-narik anaknya untuk melakukan kejahatan. Tetapi, itu bukan “umumnya”.
Karena pentingnya keluarga sebagai pusat pendidikan, maka ilmu pendidikan harus bisa membantu agar para orang tua menjadi lebih cakap menjadi guru (penuntun) bagi anak-anaknya. Keikhlasan dan pesucian orang tua dalam mendidik anak-anaknya itu sulit disamakan dengan para guru lainnya yang hanya terikat secara formal. 

Namun, dalam perannya sebagai “pengajar”, orang tua sebaiknya menyerahkan kepada pengajar yang ahli, yang memiliki ilmu pengetahuan atau ketrampilan tertentu. Dalam hal ini, orang tua bertindak sebagai penyokong. Sebaliknya, dalam soal pendidikan, maka orang tua yang bertindak sebagai pokok dan guru bertindak sebagai pendukungnya. 

Dalam hal bertindak sebagai “contoh”, menurut Ki Hadjar, maka orang tua dan guru bisa berdiri sama, sejajar. Artinya, bisa jadi orang tua lebih cakap dalam memberi teladan, bisa pula guru yang lebih cakap. Karena itu, orang tua dan guru harus bisa bekerjasama dalam mendidik anak, dengan memberi contoh atau keteladanan.
 
*****

Itulah pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan keluarga yang menduduki peran sentral dalam pendidikan anak, baik untuk pendidikan individual maupun pendidikan sosial. Pemikiran itu telah ditulisnya tahun 1935. Bahkan, secara tegas, Ki Hadjar mengkritik model “sekolah Barat” yang dikatakannya hanya mendidik intelek dan tidak bisa diandalkan sebagai tempat pendidikan individual maupun sosial.
Membaca pemikiran tokoh pendidikan nasional ini tentu kita patut bertanya, mengapa di Indonesia, gagasan pendidikan keluarga ini justru tidak diutamakan? Mengapa justru yang diutamakan adalah konsep pendidikan persekolahan model Barat yang tidak mengutamakan pendidikan adab atau budi pekerti? 

Bahkan, di Indonesia, ada satu Kementerian bernama “Kementerian Pemberdayaan Perempuan”. Pertanyaannya, “Mengapa yang diberdayakan hanya perempuan? Apakah laki-laki tidak perlu diberdayakan? Bukankah sekarang banyak sekali laki-laki yang tidak atau kurang berdaya? Bahkan, kadang, untuk sekedar protes saja, laki-laki sudah tidak berdaya! 

Bukankah seharusnya yang diberdayakan oleh negara – dengan anggaran ratusan milyar rupiah setahun – adalah keluarga. Suami dan istri harus diberdayakan agar bisa menjadi guru yang baik, sebagaimana dicita-citakan oleh Ki Hadjar Dewantara. Karena itu, sepatutnya, nama yang tepat bagi Kementerian itu adalah: “Kementerian Pemberdayaan Keluarga”. 

Gagasan Ki Hadjar begitu jelas. Bahwa, yang harus dilakukan adalah memberdayakan orang tua sebagai pendidik utama bagi keluarganya. Dan ini sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang menekankan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik anak-anaknya. Orang tual berkewajiban mendidik anak-anaknya agar mereka selamat dari api neraka. (QS at-Tahrim: 6). 

Bahkan, Rasulullah saw sudah mengingatkan, orang tualah yang menjadikan anak-anaknya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Artinya, tidak bisa tidak, orang tua berkewajiban mencari ilmu dan meningkatkan kemampuannya dalam pendidikan anak. Sebab, anak adalah amanah dari Allah untuk dididik sebaik-baiknya. 
Rasulullah saw bersabda: “Hak anak terhadap orang tuanya adalah, agar orang tuanya memberikan nama yang baik, tempat tinggal yang baik, dan memperbaiki adab anak-anaknya.” (HR Baihaqi). 
Jadi, pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua. Siapa pun pejabat negaranya, dan apa pun sistem pendidikan negaranya, maka orang tua tetap wajib mendidik anak-anaknya dengan benar. Orang tua tidak bisa beralasan, karena sistem pendidikan negaranya berdasarkan ateisme, maka ia juga mendidik anak-anaknya dengan paham ateisme. 
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan keluarga ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan di era disrupsi, juga di masa pandemi ini. Kita berharap semoga pemerintah, para pakar dan praktisi pendidikan, lebih serius dalam menjadikan keluarga sebagai institusi pendidikan yang utama. (Depok, 25 Juli 2021).

Editor: Sudono Syueb