TAUHID DAN TERPENUHINYA KEBUTUHAN DUNIAWI



Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
(Anggota Oemikiran lslam DDII Jawa Timur)

Lenteraumat.com,Surabaya-
Al-Qur’an memberi solusi dan perspektif berbeda ketika menyelesaikan problem kesejahteraan manusia yang sedang menghadapi kendala ekonomi. Kalau manusia menyiapkan generasi yang kuat secara ekonomi dengan memberikan atau menyiapkan modal, baik dengan memberikan rumah atau tanah serta mencarikan pekerjaan yang mapan untuk anaknya. Namun Al-Qur’an justru memerintahkan kepada orang tua untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki diri. Dengan perbaikan diri kepada Allah, maka Allah akan menjamin hidup generasi yang akan datang dengan apa yang dibutuhkannya. Tidak sedikit dari para ulama yang medekatkan diri dan menjalin hubungan baik dengan Allah sehingga lahir generasi yang memiliki kekuatan iman yang kuat dan memiliki kemapanan ekonomi yang lebih baik dirinya.

Penyiapan Generasi Bertauhid

Islam sangat menekankan generasi yang tangguh, tidak terlantar kehidupan dunianya dan kokoh imannya. Generasi ini terpenuhi kebutuhan dasar sehingga bisa tegak dalam hidupnya, dan kekokohan imannya bisa menjadi penuntun dalam meniti kehidupan. Terpenuhinya kebutuhan dasar seperti pangan, pakaian, rumah, dan pekerjaan merupakan keinginan setiap orang. Dalam ajaran Islam, untuk memenuhi kebutuhan itu, orang tua tidak diperintahkan untuk menyiapkan kebutuhan dasar yang bersifat duniawi, tetapi justru mendorong orang tua untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, yakni dengan bertaqwa dan menjaga akhlaq, sebagaimana firman-Nya : 

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. 
Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS. An-Nisa' : 9) 

Al-Qur’an tidak memfokuskan terpenuhinya kebutuhan duniawi terhadap anaknya, tetapi justru berpesan kepada orang tua untuk menguatkan nilai tauhidnya dengan memaksimalkan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan Allah meneguhkan pesan agungnya agar orang tua berbicara dengan tutur kata yang baik. Tutur kata yang baik merupakan teladan dan akan dilihat serta ditiru anak-anaknya.
Dengan beribadah yang maksimal serta bertutur kata yang baik, maka anak akan melihat dan meniru perilaku orang tuanya. 

Ketika orang tua rajin shalat jamaah di masjid dan shalat malam, atau sering terlihat rajin puasa Sunnah, serta rajin peduli dan memberi kepada kerabat dekat atau jauh, maka otomatis akan memberi contoh dan otomatis anak akan meniru perilakunya. Demikian pula ketika orang tua berakhlak mulia dan bertutur kata yang baik, maka anak-anak akan melihatnya serta akan menirunya cepat atau lambat.

Sebaliknya ketika orang tua tidak pernah menjalin hubungan baik dengan baik, tak pernah ke masjid dan tak pernah terlihat membaca Al-Qur’an atau berbuat baik lainnya, serta berperilaku kurang beradab, maka anak akan merekamnya. Implikasinya, anak akan meniru perilaku orang tua sehingga muncul generasi baru yang jauh dari nilai-nilai agama. Disinilah generasi yang rusak agama dan perilakunya. 

Kebaikan Yang Terwariskan

Kebaikan orang tua dengan berbagai perilaku agamanya yang mulia, akan membuat terjaganya harta miliknya, dan akan terwariskan pada anaknya. Allah merekam jejak orang tua yang shalih dan memiliki harta tapi meninggal lebih dulu. Dia meninggalkan dua anak yang masih kecil. Karena dia orang yang baik dan kedekatan dengan Allah sangat baik, maka Allah menjadi hartanya itu hingga sampai pada anaknya. Allah mengabadikan sejarah peralihan harta dari orang tua ke anaknya, sebagaimana firman-Nya :

Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang salih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi : 82)

Allah menjamin sampainya harta orang yang shalih yang telah meninggal lebih dulu, hingga sampai kepada anaknya, dengan mengirimkan Nabi Khidhir dan Nabi Musa. Kedua nabi itu menegakkan kembali temmbok yang hampir roboh. Sementara di balik tembok itu tersimpan harta yang cukup banyak.

Kebaikan orang tua berimplikasi sampainya harta pada anaknya. Hal ini menunjukkan penjagaan Allah atas seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan Allah. Allah pun menjamin seseorang yang memiliki keimanan yang kokoh akan dijamin kehidupannya dengan mencukupi kebutuhannya di dunia ini. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya : 
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A'raf : 96)

Allah mensugesti hamba-Nya untuk mengokohkan dan memperkuat iman sehingga akan terjamin kebutuhan hidup dengan memberi berkah dari apa yang ada di langit dan bumi. Negeri Indonesia adalah negara yang banyak memiliki kekayaan di bumi dan bahkan bisa dikatakan melimpah. Namun penduduknya banyak yang miskin dan teraniaya

Kita sebagai manusia yang beriman harus berintrospeksi atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat yang seringkali jauh dari nilai-nilai Islam. Dan tidak sedikit di antara mereka yang tidak percaya kepada Allah dan tidak melakukan amalan-amalan kebaikan sementara mereka mayoritas mengaku beragama Islam.

Surabaya, 8 Juni 2021

Editor: Sudono Syueb