TIGA KATA YANG KURANG DIMINATI DI DUNIA PENDIDIKAN TINGGI



Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Lenteraumat.com,Depok-
Pada 7 Mei 2021 lalu, saya kedatangan tamu pimpinan Serikat Tani Islam Indonesia (STII). Mungkin tidak banyak yang mengenal organisasi itu. Padahal, STII adalah organisasi tua yang dulunya merupakan salah satu organ Partai Islam Masyumi. STII telah banyak membantu petani. Beberapa bulan terakhir STII membantu sertifikasi tanah ribuan petani di Jawa Barat. 

Kepada Ketua Umum STII, Faturahman, saya sampaikan, bahwa di Indonesia, ada kata yang dianggap penting, tetapi kurang diminati di dunia Pendidikan Tinggi. Tiga kata itu ialah: Pertanian, Pendidikan, dan Dakwah. 

Semua pihak pasti akan menyatakan, bahwa pertanian itu penting. Tetapi, anehnya kata “pertanian” kurang diminati di dunia Pendidikan Tinggi. Tahun 1984, saya mulai kuliah di IPB. Singkatannya: Institut Pertanian Bogor. Sekarang, nama IPB telah dipopulerkan menjadi Universitas IPB. Jadi,  kata “Pertanian” tidak lagi ditonjolkan. 
Diakui oleh pejabat IPB – yang mengirimkan WA kepada saya – bahwa sebagian besar orang IPB menganggap, kata “pertanian”  itulah yang menghambat masuknya banyak calon mahasiswa berkualitas tinggi ke IPB. Karena itulah, bisa dipahami, jika nama IPB sekarang lebih dipopulerkan sebagai “Universitas IPB” atau “IPB University”
*****

Kata kedua yang kurang diminati di dunia Pendidikan Tinggi adalah “Pendidikan”.  Di berbagai kota dulu ada puluhan IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Lalu, satu persatu, IKIP berganti nama menjadi universitas. Misalnya, IKIP Jakarta menjadi Universitas Negeri Jakarta. IKIP Surabaya menjadi Universitas Negeri Surabaya. IKIP Yogyakarta menjadi Universitas Negeri Yogyakarta. Dan sebagainya. 
Ada IKIP yang mempertahankan kata Pendidikan, yaitu IKIP Bandung. Namanya menjadi Universitas Pendidikan Indonesia, disingkat UPI. Kadangkala, ada yang bercanda dengan menyebut UPI sebagai “Universitas Padahal IKIP”. 
Kata orang, menjadi guru itu mulia. Sampai-sampai ada himne guru yang menyatakan guru bagaikan pelita dalam kegelapan. Bahkan katanya, guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Dan IKIP melahirkan banyak guru. Tetapi, bukan rahasia lagi, bahwa anak-anak pintar di SMA kurang bergairah untuk memasuki bangku kuliah di IKIP, dibandingkan dengan kuliah bidang kedokteran, teknologi, atau ekonomi. Tentu, karena profesi guru dianggap tidak lebih “keren” dibandingkan dengan sejumlah profesi lainnya.
Saya pernah bertanya kepada beberapa guru besar Pendidikan. Apakah anak-anak Bapak yang pinter-pinter ada yang mengambil kuliah bidang Pendidikan? Dijawab oleh beliau-beliau itu, “Tidak ada.” Saya maklum. Itulah dunia pendidikan tinggi kita. Ketika salah satu anak saya mengambil kuliah Pendidikan Sejarah, ada saudara yang bertanya, “Nanti jadi apa?” 

Suatu ketika, saya mengisi ceramah tentang pemikiran Islam di sebuah SMA Islam yang uang masuknya ratusan juta rupiah. Kepada anak-anak kelas 3 SMA itu saya sarankan, “ Anda yang pintar-pintar, nanti ambillah kuliah Pendidikan PKN. Itu bidang yang sangat penting!”  Saya perhatikan respon para siswa itu. Beberapa diantara mereka senyum-senyum. Saya pun maklum. Kuliah bidang Pendidikan untuk menjadi guru bukanlah tujuan utama bagi para siswa dibandingkan banyak program studi lainnya. 

Suatu saat – dalam acara kajian via Zoom dengan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) – ada yang bertanya, “Bagaimana cara memajukan Pendidikan di Indonesia?” Saya jawab santai, “Jika para lulusan SMA terbaik berbondong-bondong mendaftarkan diri ke UNJ. Jika tidak diterima di UNJ, baru mendaftar ke Fakultas Kedokteran UI.”  Para mahasiswa itu pun tertawa kecil. 
Itulah nasib kata “Pendidikan”.  Banyak pakar dan pejabat berucap, bahwa pendidikan itu sangat penting dan menentukan masa depan bangsa. Tetapi faktanya, kuliah di prodi Pendidikan belum menjadi impian para siswa terbaik di negeri kita. Semoga pengamatan dan pengalaman saya itu hanya kasus dan tidak mewakili mayoritas. Wallahu A’lam. 

*****

Kata ketiga yang kurang diminati di dunia Pendidikan Tinggi adalah kata “dakwah”. Setahu saya, hingga kini, di Indonesia belum ada satu “Universitas Dakwah Indonesia”. Di Indonesia sudah ada Universitas Komputer dan Universitas Teknologi. Jika pun nanti ada satu Universitas Dakwah Indonesia (UDI), silakan dibayangkan, apakah UDI akan sangat diminati oleh para lulusan SMA atau lulusan MA yang terbaik. 

Apakah kata “dakwah” tidak lebih penting dari kata “komputer” atau “teknologi”?  Di sejumlah universitas Islam, Fakultas Dakwah diubah namanya menjadi “Fakultas Dakwah dan Komunikasi”. Banyak organisasi Islam memiliki Perguruan Tinggi dalam bidang Ilmu Dakwah. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, misalnya, memiliki kampus Sekolah Tinggi  Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. 

Setiap tahun, calon mahasiswa pendaftar STID Mohammad Natsir mencapai sekitar 1200-1500 orang. Padahal yang diterima hanya sekitar 200 orang. Tetapi, semua mahasiswa itu mendapatkan beasiswa penuh dari Dewan Da’wah. Hingga 24 Mei 2021, calon mahasiswa yang mendaftar sudah mencapai 700 orang. Jumlah ini terus bertambah. Yang diterima tahun ini sekitar 300 orang.
Program kaderisasi dai melalui STID Mohammad Natsir telah berlangsung selama 22 tahun. Mereka mendapatkan Pendidikan terbaik untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat. Para mahasiswa itu selama 2 tahun dididik di asrama STID di Bekasi, 2 tahun lagi tinggal di masjid, dan 2 tahun diterjunkan ke daerah-daerah sebagai dai pedalaman dan sekaligus dai peradaban. 
Tampaknya, banyak orang belum memandang bahwa kampus STID Mohammad Natsir adalah kampus terbaik, sebab mendidik mahasiswa menjadi pejuang dan orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Sepatutnya, biaya kuliahnya minimal sekitar Rp 10 juta per semester. 
Sebagai perbandingan, anak saya pernah kuliah di prodi Sastra Inggris di satu Universitas Swasta, dengan bayaran Rp 10 juta per semester. Kuliah kedokteran di universitas swasta saat ini, rata-rata SPP-nya sekitar Rp 25 juta per semester. 
Alhamdulillah, mulai tahun lalu, salah satu anak saya, mau kuliah di STID Mohammad Natsir dan membayar penuh biaya pendidikannya. Sebab, saya yakin, inilah salah satu kampus terbaik di Indonesia. Kampus ini mendidik mahasiswanya untuk menjadi muslim yang baik, menjadi pejuang di jalan Allah, menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. 

*****

Di akhir pertemuan dengan STII, saya sampaikan, jika kita ingin mewujudkan peradaban mulia di Indonesia, maka kita harus berjuang untuk mengangkat martabat tiga kata itu – Pertanian, Pendidikan, dan Dakwah. Semua kata itu harus diletakkan dalam perspektif peradaban Islam. InsyaAllah, itu jalan strategis kebangkitan umat dan bangsa Indonesia. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 26 Mei 2021).

Editor: Sudono Syueb