MIMPIKU TENTANG PERDAMAIAN SUPORTER SEPAKBOLA. bag. 2

Oleh Agga Jozept
Alumni SNA PPSP IKIP Malang '80

Lenteraumat.com,Malang-
Saat keadaan normal nanti, ketika kompetisi sepakbola di Indonesia kembali normal, setiap pertandingan sudah ada penonton dan suporter hadir kembali menyemarakkan suasana.

Konflik berdarah-darah antar suporter sepakbola di Indonesia agaknya sudah jadi industri media sejak pertengahan 1980an, ketika masih zaman orba hingga kini.
Sungguh industri jahat, 
Saatnya Parta Ummat melawan industri kedzaliman ini.
Maka perlu sebuah mimpi sebelum melakukan gerakan nyata anti kedzaliman suporter.

Maka aku bermimpi, ketika Arema ketemu Persebaya dalam suatu pertandingan kompetisi.
pengurus PU Jatim, pengurus PU Malang, pengurus PU Surabaya,
Berkoordinasi dan aktif mengamankan resiko bentrokan dengan melakukan aksi suporter damai.

Bersama simpatisan PU walaupun mungkin diantaranya bukan penggemar sepakbola, mereka turut aktif melakukan aksi damai suporter ini.

Pihak suporter tuan rumah dengan kostum suporternya yang lengkap sengaja menjemput suporter tamu, selayaknya menyambut tamu yang bersahabat dan bersaudara, bergurau bersama, ngopi bersama, selfie bersama, sholat jamaah bersama dengan mendapuk suporter tamu sebagai imam sholat.
Di dalam stadion mereka berbaur tanpa sekat dan menyanyi bersama selama pertandingan.
Tidak peduli tim mana yang menang, tetapi mereka tetap rukun dan akrab.
Ketika suporter tamu pulang, maka suporter tuan rumah mengantarkan sampai batas kota.

Agar mengurangi resiko penyusup yang hendak berbuat kekacauan, maka masing-masing suporter menggunakan tanda tertentu di atributnya, misal inisial PU (Partai Umat) atau inisial GUS (Gerakan Ummat Semesta) atau ucapan "salam satu ummat" atau lainnya lagi yang disepakati bersama nantinya.

Begitu juga jika ada pertandingan antara Persib vs Persija dan juga pertandingan lainnya yang berpotensi konflik,
Maka pengurus dan simpatisan PU melakukan aksi suporter bersama.
Di kota lainnya pun ketika ada pertandingan sepakbola, minimal PU hadir dengan banner atau spanduk-spanduk perdamaian,
Begitu juga kota-kota yang dilewati oleh suporter hendaknya ada dipasang spanduk atau banner ADaS (Aksi Damai Suporter) oleh pengurus dan simpatisan PU setempat.

Jika upaya ini benar-benar terlaksana dan banyak meredam aksi kebrutalan suporter, 
Maka ini akan menjadi kampanye/dakwah yang besar bagi Partai Ummat.
Mengingat sejak tahun 1980an yakni sejak zaman orba, hingga kini tidak ada : presiden, gubernur, walikota, Kapolri, Kapolda, Kapolres, tokoh, parpol, ormas dan lain-lain yang mampu mendamaikan konflik antar suporter.
Sungguh langkah besar yang signifikan jika PU nantinya mampu melakukan ini.

Ingat dan teladani lah Rasulullah Saw yang mampu mendamaikan konflik berabad-abad antar kabilah dalam waktu yang singkat dan berlangsung abadi.
Adalah mustahil jika Partai Ummat tidak mampu mendamaikan antar suporter di Indonesia.
Tunjukkan kita (partai Ummat) bisa.
Mimpi memang gampang, 
tetapi realisasi mimpi tak pernah mudah.

Mohon maaf dan mohon koreksi atas segala kekurangan.
#aghajozept210426#