MENGENAL PANCASILA LEBIH DALAM



Oleh: Agha Jozept
Kader Partai Ummat, Jawa Timur

Lenteraumat.com,Malang-
Banyak negara yang didirikan dengan prinsip lima azas, Indonesia termasuk negara yang menggunakan lima azas sebagai dasar negara yang kita kenal dengan nama Pancasila.

Menilik dari sejarah dunia, lima azas ini memang fitrah yang cocok bagi hampir semua bangsa yang ada di dunia.
Karenanya semua bangsa merasakan lima azas ini merupakan bagian langsung dari budaya mereka.

Urutan dan sebutan lima azas ini berbeda-beda sesuai karakter bangsa atau organisasi yang menggunakannya, 
Di Indonesia menggunakan dengan nama Pancasila.

Catatan tertua mengenai lima azas, dalam bentuk praktis format lima azas dibuat (mungkin) sejak awal abad ke-18 atau lebih awal dari masa itu, 
jauh sebelum adanya negara Republik Indonesia, 
dan kemudian dalam bentuk format lima azas yang praktis ini banyak ditiru oleh negara-negara lain. 

Organisasi yang menggunakan
Khamis qanun
(lima azas) adalah Freemansory, 
khams qanun disarikan dari Talmud kitab suci kaum Yahudi, 
Talmud sendiri adalah penafsiran dari Taurat yang merupakan firman Allah.
Urutan Khams Qanun Freemasonry adalah sebagai berikut :
1. Monotheisme
2. Nasionalisme
3. Humanisme
4. Demokrasi
5. Sosialisme.

Urutan Khams Qanun di atas sedikit berbeda dengan Pancasila, Khams Qanun menempatkan nasionalime (sila ketiga dalam Pancasila) diatas Humanisme (yang setara sila kedua dalam Pancasila).
Dan tentunya penafsiran masing-masing sila bisa jadi berbeda pula.

Berbagai Negara (Perancis, India, Filipina, Indonesia dan banyak negara lain), termasuk organisasi internasional Freemasonry,  
ikut mengadopsi format praktis lima azas ini, dan ada yang mengambil tiga atau empat ayat saja.
Tidak aneh karena isinya memang sesuai dengan fitrah manusia yang terefleksi dalam budaya masing-masing sebelumnya.
Yang membedakan bentuknya  adalah urutan, istilah, jumlah sila dan penafsirannya.

Bisa dikatakan Khams Qanun merupakan sebuah konsensus sekelompok besar masyarakat yang saling berinteraksi agar masyarakat yang tinggal di suatu wilayah tertentu,  tetap utuh, kuat, berkemajuan dan berbudi luhur.

Founding Father Republik Indonesia, juga mengadopsi Khams Qanun sebagai konsensus dalam dasar bernegara. Prinsip dari nilai-nilai itu sebenarnya jauh sebelumnya sudah hidup di tengah-tengah masyarakat Nusantara dalam bentuk perilaku budaya masing-masing suku, mengingat prinsip tersebut memang sesuai dengan fitrah manusia disegala zaman dan tempat.
Hanya dalam format praktis berbentuk lima azas, memang meniru dari konsep Khams Qanun

Founding Father kita tampaknya mengadopsi dari Khams Qanun Yahudi.
Tidak masalah, karena ini semua disarikan dari kitab Taurah, 
yang dipercaya juga sebagai Wahyu Ilahi.
Pasti sesuai dengan fitrah manusia.

Nama "Pancasila" memang usulan bung Karno, 
tetapi isi sila-sila dalam Pancasila adalah hasil musyawarah panitia sembilan atas usulan dasar negara dari : Moh.Yamin, Mr.Supomo dan Bung Karno.

Masing-masing tokoh mengusulkan lima azas atau sila sebagai dasar negara.
Dan dengan bijaksananya, 
anggota panitia sembilan dari kalangan ulama mengkoreksi dan menyusun kembali dengan tepat sesuai sisi pandang budaya suku bangsa di Nusantara yang religius.
Menjadi hal yang berbeda dan lebih sempurna dari lima azas sebelumnya yang merupakan usulan Moh. Yamin, Mr. Supomo dan Bung Karno.
Walaupun terjadi koreksi tujuh kata pada sila pertama, 
Tetapi tidaklah menghilangkan makna sebelumnya.
Dan kini resmi jadi dasar negara Republik Indonesia.

Dasar negara Indonesia yang dikenal dengan nama Pancasila, 
merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisah, dan urutannyapun tak boleh ditukar, 
sudah baku dan disepakati hingga hari ini.

Setiap sila di atas akan menjiwai sila-sila dibawahnya, 
karena itu urutan sila dalam Pancasila tak boleh ditukar apalagi dihilangkan.

Pada sila pertama, merupakan refleksi dari pribadi masyarakat Nusantara bertujuan hidupnya untuk bersyukur dengan cara mengabdikan diri pada sang pencipta dengan mengikuti sifat dan ajaran sang pencipta yang esa (mahaMulia).
Ajaran sang pencipta (Tuhan) inilah yang menjadikan dasar kesepakatan perilaku setiap individu masyarakat Nusantara.
Dan itu Fitrah ada pada setiap manusia di dunia ini.
Inilah intisari sila-1 yang kemudiannya menjiwai seluruh sila-sila berikutnya.

Sedikit catatan, menurut bahasa sansekerta, 
Esa artinya Mulia.
Sedangkan tunggal artinya Eka.
Karena Tuhan yang Mulia (esa) selalu bersifat Tunggal (Eka), 
maka pertukaran istilah esa menjadi Tunggal tidaklah menjadi masalah.

Kembali ke topik berikutnya, 
tentu sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri, 
masing-masing mereka perlu saling berinteraksi sebagai manusia yang ber-Tuhan Esa (maha Mulia) dengan berkeadilan dan berperadaban sehingga tercipta masyarakat yang rukun, damai.
Maka untuk itu perlulah adanya konsensus bersama dalam bentuk sila kedua Pancasila.

Kemudian untuk mewujudkan keinginan dasar manusia Nusantara dalam mengabdi Tuhannya dan berinteraksi dengan manusia lain secara bebas, 
maka diperlukanlah sebuah wilayah yang berdaulat.
Tak mungkin mempunyai kebebasan untuk mewujudkan sila-1 dan sila-2, jika tidak memiliki wilayah hidup sendiri yang berdaulat.
Untuk itu disetujui adanya sila-3 dalam Pancasila.
Dalam bentuk negara yang berdaulat, religius berkeadilan dan berperadaban, tanpa intervensi bangsa lain yang merusak keadilan dan merendahkan martabat bangsa.
Sila ke-3 adalah ibarat sebagai wadah atau rumah yang harus ada agar bisa melaksanakan sila-1 dan sila-2.

Dan agar negara sebagai wadah tetap utuh, haruslah dijaga dengan sebuah musyawarah sederejat dari semua komponen bangsa, persoalan bangsa tidak bisa diputuskan dengan menang-menangan suara terbanyak, semua masalah bangsa dan negara haruslah diputuskan dari hasil musyawarah tokoh-tokoh eksponen bangsa yang ada.
Maka itulah terbentuknya sila-4 Pancasila, sebagai pilar negara agar tegak utuh keberadaannya.

Ibarat pilar, haruslah terdiri dari bahan terbaik agar kokoh menopang sebuah bangunan rumah.
Maka pelaku musyawarah dan kemudian menentukan  penyelenggara negara haruslah orang-orang yang kompeten dan ahli dibidangnya.
Sehingga memenuhi  aspirasi rakyatnya yang berkelanjutan, pos-pos penting negara harus diamanahkan pada ahlinya, 
Maka untuk itulah diperlukan sila ke-5 dari Pancasila.
Pancasilais sejati akan merasa tertipu jika lembaga-lembaga negara diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten yang bukan ahli dibidangnya.
Karena akan terjadi kemacetan dan kekacauan aspirasi masyarakat di dalamnya.

Kemacetan fungsi lembaga-lembaga negara pasti akan merusak negara dari dalam, 
dan akhirnya menimbulkan ketidakpuasan disana-sini.

Sebagai contoh, jika ada sekelompok rakyat yang marah, bukanlah tindakan yang Pancasilais jika langsung digebuk dengan pendekatan kekuasaan atau pendekatan kekerasan.

Sesuai dengan nilai Pancasila, setiap kasus haruslah diteliti, 
mungkin ada yang salah dalam menjalankan menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam bernegara
sehingga menimbulkan kemarahan sebagian rakyat.
Pendekatan yang pancasilais adalah dengan sila-4, yakni musyawarah untuk mencapai mufakat.
Pendekatan kekuasaan atau pendekatan kekerasan hanya diperlukan jika jalan musyawarah menemui jalan buntu.

Sedangkan bagi sebagian masyarakat yang memandang Pancasila hanyalah ekspresi dari sila-3, maka disadari atau tidak, itu adalah perbuatan makar.
Pancasila (lima azas) tidak pernah disetujui untuk menjadi Ekasila (satu azas).
Perbuatan makar terhadap konsensus Pancasila, dan dalam hal ini penghilangan beberapa sila, maka dalam tradisi hukum kenegaraan NKRI termasuk pelanggaran berat karena tergolong subversif kelas berat.

Sudah seharusnya segala persoalan bangsa dikembalikan lagi dengan azas sila-4, yakni musyawarah.
Dan musyawarah harus adil dan berperadaban sesuai sila-2.
Dan dilakukan oleh-oleh orang-orang yang kompeten sesuai sila-5 Pancasila.
Jika itu yang terjadi, maka benarlah masyarakat kita sudah Pancasilais.

Jika hanya mengandalkan penyelesaian masalah dengan pendekatan kekuasaan atau pendekatan kekerasan, 
Lalu apa bedanya dengan jenis negara-negara arogan yang tak mengenal ajaran ke-Mulia-an Tuhan dan tak menghargai sesama manusia secara adil dan beradab ?

Pendekatan kekuasaan hanyalah solusi terakhir ketika pendekatan sederajat, yakni bermusyawarah,  sesuai nilai-nilai Pancasila, sudah menemui jalan buntu.

Pendekatan kekuasaan juga merupakan bagian dari menjaga adanya nilai-nilai keadilan dan peradaban sesuai sila ke-2.
Dan hanya digunakan sebagai solusi terakhir karena terpaksa.

Sejarah Indonesia sejak kemerdekaan tercatat banyak kejadian kekerasan dan konflik, menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila belum sempurna diterapkan oleh umumnya bangsa ini.

Barangkali itu terjadi karena mungkin mayoritas bangsa ini tidaklah tertarik untuk memahami apa makna Pancasila sebagai dasar negara dalam kehidupan bernegara.

Pancasila bukanlah hal-hal yang hanya didengung-dengungkan ketika ada upacara atau hari-hari tertentu kenegaraan.

Pancasila haruslah dijalankan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari bangsa ini.

Tulisan ini hanyalah sekedar bercermin pada fakta sejarah yang biasanya akan selalu terulang.
Antara lain agar tidak tertipu oleh sebuah nama dari suatu gerakan politik, 
Karena bisa menipu, tetapi ciri-ciri khas gerakan akan menunjukkan kearah mana gerakan tersebut menggiring pendukungnya.

Disitulah salah satu pentingnya memahami makna dan nilai-nilai Pancasila adalah agar bangsa ini tidak mudah terjebak menilai suatu gerakan politik berdasarkan nama gerakan tersebut, 
nama bisa sesuai dengan ciri dan bisa juga berbalik ciri dari gerakan atau kekuatan organisasi tersebut.

Dengan mengetahui ciri-ciri suatu gerakan kelompok atau organisasi  berdasarkan nilai sila-sila dalam Pancasila, diharapkan bangsa ini bisa menilai mana suatu organisasi yang mendukung Pancasila dan mana suatu organisasi yang justru mengkhianati Pancasila.
Pada akhirnya dapat terhindar dari salah menilai atau salah bergabung dengan gerakan tersebut.

Dan dengan bercermin pada sejarah akan ada solusi untuk mengantisipasi peristiwa yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi di masa depan.

Mohon maaf jika ada yang tidak sepakat,
#aghajozept200526#

Editor: Sudono Syueb