KETIKA BERKOALISI DENGAN MEREKA, PASTI KAUM MUSLIMIN DIKADALIN

Oleh: Agha Jozept
Kader Partai Umat


Lenteraumat.com,Malang
'Āli `Imran : 118 
Hai orang-orang yang beriman, 
janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, 
di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. 
Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. 
Telah nyata kebencian dari mulut mereka, 
dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), 
jika kamu memahaminya.

Al-`An kabut (29) : 2 
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : 
"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

*********

HR Shahin Muslim :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, 
sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” 
Kami bertanya :
“Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” 
Beliau menjawab: 
“Siapa lagi kalau bukan mereka?” 

*******

Orang-orang yang termasuk kategori beriman pun masih terus diuji,  
selama hayat dikandung badan maka ujian dari Allah belumlah selesai,  
yang sudah berimanpun masih diuji lagi,  
bahkan dengan ujian yang levelnya lebih tinggi dibandingkan ujian untuk orang-orang yang belum kategori beriman. 

Tak heran banyak orang yang sebelumnya beriman dengan level tertentu,  
ternyata di akhir hayatnya ada penurunan level keimanan,  
bahkan ada yang sampai kehilangan imannya,  
iman kepada Allah,  
iman ke kitabNYA
dan lain-lain. 
Karena gagal atau kurang berhasil menempuh ujian-ujian selanjutnya yang tentu lebih berat. 

Salahsatu ujian bagi orang-orang beriman adalah ketika membutuhkan mitra dalam perjuangan hidupnya. 
Banyak mereka bermitra dengan kaum atheis,  sekulerisme dan sejenisnya. 
Selagi sebatas bermitra sederajat tidaklah bermasalah,  
namun kebanyakan sedikit demi sedikit kaum beriman ini akhirnya tenggelam juga dalam kubangan hukum/dalil/teori kaum atheis,  sekulerisme dll.

kaum atheis dan sekulerisme, lahir dari kalangan umat Yahudi dan Nasrani di Eropa,  disaat ajaran kristiani(Nasrani) dirusak dari dalam oleh illuminati Yahudi.
Maka lahirlah isme2 (diin2  dan 
syariah2 baru)  dari sana,  antara lain  : 
Sekulerisme, atheisme,  agnostikme, liberalisme, sosialisme, komunisme,  kapitalisme dll. 
Mereka sengaja disebut dalam tulisan ini sebagai kaum "non-beriman",  
maksudnya tidak beriman terhadap Allah. 

Akhirnya kaum beriman ini lama kelamaan tak lebih cuma jadi pendukung kaum yang tidak beriman tadi. 
Berkurang atau malah hilanglah keimanan kaum beriman pada : Allah,  hukum-hukumNya,  pada ilmuNYA,  pada kitabNya,  dan seterusnya. 

Yang berjuang di dunia pendidikan misalnya,  mereka bermitra dengan kaum  non-beriman. 
Akibatnya sistem pendidikan,  
kurikulum pendidikan,  model pendidikan dll semakin hari semakin mirip dengan metode kaum non-beriman,  dan anehnya kaum yang beriman malah merasa semakin modern/maju dengan cara itu. 
Sikap demikian bisa dijadikan sebagai bukti bahwa kaum beriman mulai tampak luntur keimanannya. 

Di bidang ekonomi misalnya,  
lagi-lagi semakin lama semakin tenggelam dalam sistem,  metode,  prinsip,  hukum kaum non-beriman. 
Ilmu ekonomi dalam Qur’an dan tauladan Rasulullah saw pelan-pelan ditinggalkan. 
Jika kemudian muncul istilah yang viral,  yakni "ekonomi syariah",  
maka itu tak lebih sekadar menjaring konsumen sebanyak-banyaknya dari kalangan muslim, 
sesuai prinsip ekonomi kapitalisme. 

"Ekonomi syariah" yang digaungkan bukan lagi untuk ibadah pada Allah,  tetapi lebih pada 
kepentingan menjaring konsumen semaksimal mungkin sesuai dengan prinsip ekonomi sekuler. 

Dalam bidang politik juga,  
semakin lama semakin jelas,  
bahwa kaum beriman yang berkoalisi ataupun sekedar mengikuti sistem kaum non-beriman, 
Ternyata dalam perjalanannya kurang berhasil untuk "mensyariahkan politik". 
Kebanyakan yang terjadi kemudian justru kaum beriman dalam perjuangannya di ranah politik, 
terpaksa atau sukarela membuang hukum-hukum Allah dan mengganti dengan hukum-hukum buatan kaum non-beriman sebagai sokoguru utama dalam berpolitik. 
Akibatnya bukan hanya sekedar jadi "jongos politik" kaum non-beriman,  
tetapi juga keimanannya terhadap Allah akan terdegradasi secara drastis. 

Begitu juga dibidang : sains,  kedokteran,  industri, gaya hidup dll. 
Semakin lama justru kaum beriman kehilangan legitimasi keimanannya ketika bermitra erat dengan kaum 
non-beriman. 
Mereka semakin kehilangan kepercayaan (keimanan)  pada kitabullah untuk menyelesaikan urusan-urusan duniawi. 
Taqlid dengan sadar atau tidak terhadap : ilmu,  hukum,  dalil,  teori,  pendapat kaum non-beriman. 

Ini semua akibat "berteman kepercayaan" kepada kaum non-beriman. 
Berteman bagus-bagus saja dan positif. Namun jika sudah "berteman kepercayaan",  
atau bermitra secara khusus dalam urusan umat,  
atau berkoalisi dalam politik,  resikonya besar  sekali. 
Dalil di atas melarang bermitra seperti itu. 

Sampai kapan umat Islam membiarkan diri dipermainkan mereka ?  
Jika umat Islam tidak segera bertobat,
atau kembali mengikuti arahan Al-Qur'an, 
Maka sampai kapanpun umat Islam hanya akan dikadalin terus menerus oleh mereka.

Maka hanya dengan hukum Allah-lah (al-mulk) dunia ini bisa diatur menjadi harmonis dan diridloNYA. 
Bukan dengan hukum-hukum ciptaan manusia. 
Itu berarti menuntut umat Islam sebagai Pioneer disegala bidang, 
Bukan cuma pengikut polos yang selalu mudah dimanfaatkan seperlima oleh pihak lain.

Wallahu a'lam bish-shawabi. 
Mohon koreksi dan penyempurnaannya. 
Semoga menjadi bahan renungan dan bahan diskusi yang bermanfaat. 
#aghajozept2019#

(sangat boleh di edit dan di share kembali, *tanpa* harus izin penulis)

Editor: Sudono Syueb