Jalan Panjang di PII, Do'a dan Harapan: Catatan Hari Bangkit PII ke-74


Oleh : Sadam Hardi
(Ketum PW PII, Maluku Utara)

Lenteraumat.com,Maluku Utara
Menjalani pendidikan di desa dengan segala keterbatasan sumber daya, yakni tenaga guru, fasilitas belajar dan ruang sosial atau lingkungan sebagai pendukung guna meningkatkan potensi diri, adalah memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan daya pikir dan mentalitas seorang. Inilah yang saya alami ketika memasuki dunia pendidikan di desa. Ketika masih berada di bangku SD, dididik untuk harus mampu menjadi siswa yang memiliki potensi hebat dan berdaya saing dengan teman-teman lain yang setiap evaluasi belajar selalu menduduki rengking pertama karena mempunyai nilai yang tinggi di buku raport, hal ini bertolak belakang dengan realitas pendidikan yang sementara saya jalani. Bagaimana tidak, kita yang terlahir dari lingkungan keluarga yang sederhana, mayoritas keluarga yang tidak berpendidikan kemudian masuk pada lingkungan pendidikan yang tidak memiliki sarana yang memadai, hal ini berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan diri. Namun mau tak mau harus tetap dijalaninya karena sudah menjadi takdir hidup seorang anak desa. 

Meski memiliki kemampuan yang tidak sama dengan teman-teman lain di kelas, namun proses pendidikan sekolah dasar di kampung halaman dijalani hingga tamat, begitu pula di bangku SMP, saya jalani hingga tamat pada tahun 2005. Itu semua di jalani di desa. Dengan demikian, maka tingkat kemampuan diri sudah pasti diukur, bagaimana terlahir di lingkungan yang jauh dari pergaulan, memasuki pendidikan di desa dengan sarana yang kurang memadai, maka outputnya pun kurang maksimal, yakni kemampuan diri tidak sama dengan teman-teman di kota-kota. Namun demikan, saya tetap mensyukurinya, karena melalui dari situlah saya bisa berpendidikan hingga tamat S1.

Setelah tamat di bangku SMP, saya pun lanjut ke SMA. Setelah bermusyawarah dengan orang tua, kali ini saya berkeputusan untuk lanjut sekolah di kota Ternate. Saya pun melanjutkan pendidikan di salah satu sekolah negeri di kota Ternate, yakni SMA Negeri 3 tepat pada tahun 2006. Untuk menjalani pendidikan kali ini saya tidak sendiri lagi karena telah bersama dengan adik kedua saya, almarhum Nanang. Ia pun masuk di bangku SMP di sebuah sekolah di Ternate. Selang beberapa hari setelah mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS), saya pun diajak mengikuti training organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). pada usia 16 tahun saya mengikuti Leadership Basic Training (LBT) PII di sebuah sekolah di Ternate dan mulai menggeluti dunia organisasi setiap saat. Beberapa bulan kemudian saya pun merekrut adik saya almarhmun Nanang untuk mengikuti training dan gabung bersama saya dalam wadah perjuangan Pelajar Islam Indonesia di kota Ternate. Saat mengikuti training, almarhum nanang masih duduk di bangku kelas satu SMP. Saya bersama almarhum bersama dengan temn-teman PII yang lain pun mulai mengurus kegiatan-kegiatan PII, baik training-training, rapat-rapat serta kegiatan lainnya. Meski menjadi aktivis organisasi, kami tidak pernah lalai dalam menjalankan kewajiban sebagai siswa di sekolah, yakni tetap masuk sekolah, belajar dan mengerjakan PR yang diberikan oleh guru. Karena kami sadari bahwa kami diamanahkan oleh orang tua untuk bersekolah dan terus menuntut ilmu. Lagi kami selalu diingatkan oleh senior-senior di PII bahwa seorang kader PII harus Sukses Study Unggul Organisasi dan Mengabdi di Mata Allah.

Waktu berputar dan saya pun naik di kelas dua SMA. Pada kelas dua SMA tahun 2007 saya diamanahkan menjadi Pengurus Komisariat PII di salah satu bidang. Disamping menjadi PK PII, saya juga diberikan tugas di sekolah sebagai Pengurus Osis di salah satu bidang juga. Untuk diketahui bahwa Pengurus Komisariat PII adalah institusi di tingkat Sekolah, Kampus maupun Kecamatan di masing-masing daerah seluruh Indonesia. Dari sinilah saya mulai belajar untuk menggenggam amanah. Sejujurnya sangat sulit dalam menggenggam amanah, sungguh sangatlah berat. Jika tidak memiliki jiwa yang sabar, maka tentunya kita akan lari meninggalkannya atau mundur dari jabatan yang kita emban. Saya pun menjalaninya dengan senang dan bangga meski kadang dalam proses, antara teman timbul perdebatan karena berbeda pandangan, sering dimarahi senior, bahkan dicela oleh orang lain.

Tanpa terasa proses pendidikan formal di Sekolah Menengah atas dan tangga Struktural di tingkat Komisariat telah usai dalam kurun waktu 2006-2009. Karena masih memiliki keterbatasan sehingga niat untuk masuk di bangku kuliah sempat tertunda hingga tahun 2011. Rentan waktu antara 2009 s/d 2011 saya mengisi dengan kerja di toko, menjadi nelayan di kampung, pekerja kopra dan kembali beraktivitas di PII di tingkat Pengurus Daerah akhir 2010. Proses itu di jalani hingga akhirnya tahun 2011 bisa mendaftar kuliah dan kembali beraktivitas di PII sebagai pengurus daerah. 

Alhamdulillah pada awal tahun 2012 saya mengikut jenjang training tingkat kedua yaitu Leadership Intermediate Training (LIT) di Ternate dan selang beberapa waktu kemudian awal mula saya mengikuti agenda nasional yakni Muktamar Nasional PII ke-28 di Palu Sulawesi Tengah. Waktu berputar, perjalanan 2012 s/d 2015 saya menjadi Pengurus Daerah PII Kota Ternate. Periode 2013-2014 saya diorbitkan menjadi Sekretaris Umum PD PII Kota Ternate dan Konferensi Daerah pada tahun 2014 di Ternate saya terpilih dan dipercayakan Sebagai Ketua Umum Pengurus Daerah PII Kota Ternate periode 2014-2015. Beberapa tahun kemudian pada tahun 2017 saya diberi tanggung jawab baru sebagai Sekretaris Umum Pengurus Wilayah PII Maluku Utara dan pada tahun 2018 saya hadir pada agenda Rapat Pimpinan Nasional di Jakarta. Sekembali dari mengikuti RAPIMNAS di Jakarta saya bertekad dan mengikuti jenjang training terakhir PII yaitu Leadaership Advanced Training (LAT) dan Pendidikan Instruktur di Bitung Sulawesi Utara.

Sekembali dari mengikuti LAT dan Pendidikan Instruktur saya bertekad untuk masih melanjutkan mengurus PII sehingga tahun 2019 Saya diberikan tugas baru, yakni dalam pelaksanaan Konferensi Wilayah ke-15 saya terpilih Menjadi Ketua Umum Pengurus Wilayah PII Maluku Utara periode 2019-2021. Mengawali pengembanan amanah sebagai ketua  pada periode 2019-2021 saya harus berpikir keras untuk bagaimana konsolidasi pengurus, menciptakan dan menghidupkan infrastruktur organisasi di tingkat kabupaten/kota melalui training-training, berpikir dan berusaha mencapaikan niat suci kader-kader PII Maluku utara yaitu menyukseskan Maluku Utara menjadi tuan rumah Muktamar Nasional ke-31 pada tahun 2021 di Ternate.  Periode yang sangat singkat itu saya mengoptimalkan dengan segala kekuatan yang saya miliki meski kadang  saya mengakui seakan tak sanggup dan putus asa namun tetap bangkit. Belum lagi menghadapi tantangan internal organisasi, sungguh sangat menyesakkan dada. Tapi semua di jalani dengan bermodal tekad dan sabar. 

Tahun 2019 saya menhadiri Sidang Dewan Pleno Nasional (SDPN PII) di Bandung dan berusaha meyakinkan teman-teman PII se-Indonesia untuk memilih dan memutuskan Maluku Utara menjadi tuan rumah Muknas ke-31. Akhirnya dengan segala usaha dibantu dengan teman-teman kader PII Maluku Utara, maka peserta SDPN menentukan pilihan mereka untuk memilih Maluku Utara sebagai tuan rumah Muktamar. Pimpinan sidang SDPN kemudian membacakan konsederan dengan Menimbang, Mengingat, Memperhatikan, Menetapkan dan Memutusakan Maluku Utara menjadi tuan rumah Muktamar Nasional ke-31 yang akan dilaksanakan pada bulan Maret tahun 2021. Saya bersyukur karena segala cita-cita kader PII Maluku Utara telah tercapai. Namun sekembali dari SDPN, saya harus berpikir bagaimana untuk menggalang kekuatan besar dan menyiapkan Maluku Utara menjadi tuan rumah yang baik. Saya dan teman-teman terbaik pun mulai menyiapkan skema, strategi dan progres-progres yang harus ditempuhi. Saya memberanikan diri berkeputusan untuk membuat LIT dua kali dalam tahun 2019 dan Basic Training 1 kali pada bulan Desember 2019 dengan konsolidasi dan kordinasi semaksimal mungkin sehingga peserta yang mendaftar berjumlah 200 orang dalam satu titik kegiatan. Tentu hal ini tidak mudah karena harus membutuhkan persiapan yang ekstra dan estimasi anggaran yang tinggi. Namun meski dengan segala keterbatasan, saya dan teman-teman bertekad melakukannya hingga selesai. Usai kegiatan itu kami mulai fokus untuk persiapan-persiapan menuju Muktamar Nasional di Ternate. Mulai dari konsolidasi kepanitiaan, konsolidasi kader, siapkan hal teknis, koordinasi perhotelan, audiensi ke pemerinntah dan instansi-instansi lain. Semua itu dilakukan dengan sungguh meski sangat lelah namun berharap agenda itu bisa berhasil dengan baik di Maluku Utara.

Kini tiba pada bulan Maret 2021, kami sudah berada pada ambang pelaksanaan Muknas, jelang satu minggu kemudian hari H, beberapa teman-teman Pengurus Wilayah sudah menuju Ternate bersama dengan beberapa Pengurus Besar PII. Suasana itu sangat membuat bahagia karena hari yang dinanti-nantikan kini suda berada di depan mata. tanpa dibayangkan, tinggal menghitung beberapa hari pelaksanaan Muktamar, tiba-tiba bangsa kita dikejutkan dengan Penyebaran Covid 19 sehingga semua aktivitas dibatalkan termasuk agenda Muknas yang sudah disiapakan sejauh ini. Dan sangat disayangkan beberapa teman-teman di beberapa Provinsi yang sudah dalam perjalanan ke Ternate kini mendengar kabar bahwa Muknas ditunda hingga pada waktu yang belum bisa ditentukan. Saya dan teman-teman di Ternate tak mampu berbuat apa selain tetap berusahan menjamu teman-teman yang berdatangan hingga PB PII berusaha mengembalikan mereka di masing-masing daerah di Indonesia. Mereka pun telah dipulangkan dan selang bebearapa waktu kemudian digelar SDPN kedua secara virtual dan diputuskan Jakarta menjadi tuan rumah. Pada tahun 2021 kami mengikuti Mukamtamar di Jawa Barat dan telah terpilih Ketua Umum PB PII periode 2021-2023. Semoga dapat membangun organisasi tercinta ini sebagai mata rantai perjuangan ummat untuk tetap berkonstribusi terhadap ummat, bangsa dan negara. 

Dalam menjalani perjalanan panjang di PII, yang membuat saya tetap bertahan adalah atas dasar kecintaan saya terhadap PII dan memiliki tekad yang kuat serta merasa berterima kasih di PII. Bagi saya, bukan PII yang harus berterima kasih ke saya, tapi sayalah yang harus berterima kasih di PII. Karena apa yang diberikan oleh PII ke saya tidak mampu saya menhitung, sungguh sangatlah banyak dan bermanfaat, maka dengan rentan waktu 10, 5, 3, bahkan setahun bagi saya tidak cukup bersama PII dan melakukan sesuatu apapun itu sejauh kemampuan saya untuk kemajuan PII agar tetap bermanfaat bagi ummat, bangsa dan negara. Selain itu saya memiliki orang tua yang selalu mendukung saya meski dalam mengurus PII saya tidak memiki pekerjaan tetap hingga sekarang, namun orang tua saya yang sangat baik itu tetap mendukung dan memeberi semangat di tiap-tiap saya memegang amanah perjuangan. Selanjut, yang membuat saya tetap bertahan adalah teman-teman pengurus saya yang tetap loyal dan selalu setia di setiap waktu, mereka adalah orang-orang hebat dan saudara yang terbaik pada barisan perjuangan dakwah selalu menjadi penopang dan pelengkap dalam mendorong kemajuan PII di Maluku Utara. Di satu sisi yang sangat berarti adalah saudara-saudara saya dan senior-senior PII yang sangat baik yang setiap waktu tetap menanamkan semangat perjuangan dan terus mendukung baik materil dan moril sehingga api semangat perjungan masih tetap meyala di dalam jiwa. 

Akhirnya, saya ucapkan Selamat Hari Bangkit ke-74 Tahun Pelajar Islam Indonesia. Usia 74 tahun bukanlah usia yang muda, fase-fase perjalanan PII di bangsa ini telah dilalui, tentunya PII sudah memiliki kedewasaan dan kebijaksanaan dalam berjuang. Mari berdengkan tangan bersama  dalam shaf yang rapih dan lurus serta memilik satu niat yang suci untuk menggelorakan gerakan perjuangan Pelajar Islam Indonesia agar tetap jaya. Perbedaan dalam tiap-tiap diri dan kelompok adalah sunnatullah, namun jangan jadikan itu sebagai alasan untuk meninggalkan kawan dalam berjuang. Jangan terjebak pada perbedaan. Jadikan perbedaan itu sebagai kekuatan besar untuk bersatu dan mewujudkan mimpi bersama. Semoga yang maha tinggi tetap lindungi PII. Dan PII kedepan lebih baik dan lebih berjaya. 

Bulan depan pada Juni 2021 PW PII Malut akan menggelar Konferensi Wilayah ke-16, dan itu berarti saya bersama teman-teman dalam periode ini suda berakhir dalam kepengurusan. Saatnya kader-kader terbaik yang insya Allah lebih baik dari saya untuk memimpin PII di Maluku Utara dan melakukan terobosan besar dalam kemajuan PII di bumi Moloku Kie Raha Negeri para Raja.

Akhir dari tulisan ini mari kita sama-sama mengingat kembali pesan Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam pidato peringatan Hari Bangkit I PII tahun 1948 di Yogyakarta.

"Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada anak-anakku di PII, sebab saya tahu bahwa telah banyak korban yang telah diberikan oleh PII kepada negara. Teruskan perjuanganmu. Hai anak-anakku Pelajar Islam Indonesia. Negara di dalam penuh onak dan duri, kesukaran dan rintangan banyak kita hadapi. Negara membutuhkan pengorbanan pemuda dan segenap bangsa Indonesia."

Editor: Sudono Syueb