ISTIQAMAH SETELAH RAMADHAN




Oleh: Dr. Adian Husaini
(www.adianhusaini.id)

lenteraumat.com,Depok-
Pada hari Ahad (9/5/2021), saya mengisi kajian untuk satu komunitas muslim Indonesia di Jerman. Temanya: Istiqamah Setelah Ramadhan. Tema itu menarik dan penting. Sebab, sudah lazim terjadi, pasca Ramadhan, semangat ibadah tak sekuat ibadah di bulan Ramadhan. 
Lalu, bagaimana agar bisa istiqamah beribadah, sebagaimana di bulan Ramadhan? Kita, insyaAllah, bisa istiqamah beribadah, jika paham tujuan dan kurikulum ibadah dalam Islam. 
Jika tidak paham tujuan, maka bisa jadi akan berhenti beribadah, karena merasa sudah sampai pada tujuan. Padahal, perjalanan masih jauh. 
Ramadhan adalah bulan pendidikan terbaik.  Tujuannya jelas: terbentuknya manusia yang mulia. Yakni, manusia taqwa. Meskipun Ramadhan 1442 Hijriah berlalu, perjuangan kita untuk mewujudkan pribadi, keluarga dan masyarakat mulia, tidak boleh berhenti. 
Sebagai satu proses pendidikan, ibadah Ramadhan memiliki kurikulum terbaik yang langsung dicontohkan oleh guru terbaik, yaitu Rasulullah Muhammad saw. Kurikulum itu telah kita terapkan dalam program-program praktis selama Ramadhan, sesuai dengan kondisi kita masing-masing. 

Di akhir Ramadhan, yang perlu dilakukan adalah evaluasi; evaluasi hasil dan program. Apakah derajat ketaqwaan kita meningkat setelah berpuasa selama 30 hari? Itu bisa diukur, misalnya, dari kriteria ilmu bermanfaat (ilmu nafi’), menurut Imam al-Ghazali. 
Ilmu yang bermanfaat, adalah ilmu yang: 
Menambah rasa takut (khauf) kepada Allah SWT
Menambah ketajaman mata hati untuk mengenal cacat-cacat jiwa dan amal
Menambah pemahaman dan semangat ibadah kepada Allah SWT
Mengurangi kecintaan terhadap dunia
Menambah kecintaan kepada akhirat

Artinya, jika kita merasakan banyak kekurangan dari target-target yang baik tersebut, maka perlu disadari, bahwa kita masih terus mengejar kekurangan, dengan semakin meningkatkan ilmu dan ibadah pasca Ramadhan. Kesadaran ini sangat penting, agar kita tetap bersemangat dan istiqamah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 
    
Proses perbaikan diri agar menjadi insan yang makin baik itulah hakikat pendidikan Islam. Itulah pendidikan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.  Karena itulah, sepatutnya setiap muslim memahami makna “kemajuan” dalam Islam. Yakni, kemajuan diri dan kemajuan sosial atau bahkan kemajuan suatu bangsa. 
   
Kemajuan diri bermakna, diri seorang manusia menjadi semakin dekat dengan Allah. Kemajuan yang utama adalah kemajuan jiwa manusia. Jiwanya semakin bersih, sehingga ia semakin sukses. Jiwanya semakin bersih dari berbagai penyakit hati, seperti kekufuran, kemunafikan, cinta dunia, sombong, riya’, malas, penakut, lemah, dengki, dan sebagainya. 
    
 Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang benar dan diamalkan dengan ikhlas. “Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sia-sia,” kata Imam al-Ghazali.   
    
Salah satu ciri ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memperkecil kecintaan kepada dunia. Silakan kita melakukan evaluasi (muhasabah) terhadap diri masing-masing. Apakah tujuan amal ibadah kita masih sebatas capaian dunia, atau tujuan kita sudah benar-benar mengharapkan keridhaan Allah SWT. Apakah kita masih resah jika amal kita dicaci dan tidak dihargai? 
Ibadah Ramadhan seharusnya membuat jiwa kita semakin bersih dan tenang (nafsul muthmainnah). Jiwa kita akan tenang, jika kita tidak lagi bergantung kepada pujian manusia. Begitu juga, amal ibadah kita tidak lagi terpengaruh oleh cacian orang. Ini perlu perjuangan berat berupa mujahadah alan nafs.
   
Jadi, syarat penting untuk bisa istiqamah beribadah pasca Ramadhan, adalah dengan memahami tujuan dan jalan (kurikulum) yang harus kita tempuh sepanjang hayat. Berakhirnya bulan Ramadhan tidak boleh menjadikan kita seperti kuda lepas kendali, setelah sekian lama terikat. Bahkan, ibadah Ramadhan sepatutnya membawa dampak yang kuat terhadap perbaikan ibadah kita pasca Ramadhan.
  
Ibadah Ramadhan bukan sekedar menahan makan dan minum dan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Tujuan dari ibadah Ramadhan adalah terbentuknya insan bertaqwa. Tujuan itu harus terus dikejar; tidak boleh berputus asa, meskipun setiap manusia harus jatuh bangun untuk mengejar derajat kemuliaan. 
Dengan landasan iman dan semangat ibadah itulah maka setiap muslim dididik terus-menerus sepanjang hayat untuk menjadi insan mulia. Meskipun Ramadhan berlalu, proses pendidikan itu tidak boleh berhenti. 

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan pendidikan sebagai proses penanaman nilai-nilai kebaikan atau keadilan (inculcation of justice) dalam diri manusia sebagai manusia individual.  Nilai paling fundamental adalah proses penanaman adab dalam diri insan. 

Definisi ini menarik. Sebab, keberhasilan pendidikan yang utama akan diukur dari kualitas adab atau akhlak seseorang.  Akhlak adalah refleksi iman. Kata Nabi Muhammad saw: “Akmalul mukminiina iimaanan ahsanuhum khuluqaa.” (Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya). 
Dalam konteks internal diri manusia, paham tujuan dan kurikulum pendidikan diri,  itulah cara untuk bisa tetap istiqamah dalam ibadah pasca Ramadhan. Secara eksternal, tantangan terberat tetaplah datang dari musuh abadi manusia, yaitu setan – baik setan jenis jin atau jenis manusia. Setan sudah bersumpah untuk terus berusaha menyesatkan manusia. 
Untuk mengatasi tipu daya setan, maka perlu senjata ilmu, doa, dan kejamaahan. Setan menyesatkan dengan ilmu yang merusak manusia. Serangan ilmu harus dijawab dengan ilmu juga. Doa adalah senjata orang mukmin. Jangan lupa dan jangan lelah untuk terus berdoa meminta keselamatan agama kita. Tidak diragukan lagi, faktor teman (kejamaahan) sangat berpengaruh pula dalam menjaga keselamatan agama kita. Karena itu, hati-hati pilih teman atau organisasi! 
Semoga amal ibadah Ramadhan kita diterima Allah SWT, dilipatgandakan pahalanya, dan kita diberikan kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Aamin. (Depok, 30 Ramadhan 1442/12 Mei 2021)