EVALUASI DI HARI IDUL FITHRI


Oleh: Adian Husaini
(www.adianhusaini.id)

Lenteraumat.com,Depok-
Idul Fithri 1442 H, bertepatan dengan 13 Mei 2021. Pagi ini saya menyampaikan khutbah Idul Fithri di sebuah Kawasan Pondok Bambu Jakarta Timur. Tampak ribuan jamaah mengisi lapangan komplek perumahan. Protokol Kesehatan diterapkan. Sebab, masih dalam suasana Pandemi Covid-19.

Khutbah pun saya sampaikan dengan singkat. Intinya, ajakan kita semua untuk meneguhkan komitmen ketaqwaan. Visi dan misi ketaqwaan inilah yang seharusnya kita jadikan pegangan dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebab, kata taqwa telah resmi dijadikan sebagai sifat ideal dalam konstitusi dan perundang-undangan kita. 
Pemimpin disebut berhasil, jika ia – terutama – berhasil meningkatkan derajat ketaqwaan rakyatnya. Gubernur DKI Jakarta, misalnya, dinilai berhasil jika meningkatkan ketaatan rakyatnya dalam beribadah. Itu semua harus dibuat indikatornya. Misalnya, indikator partisipasi jamaah sholat subuh, shalat tahajud, angka melek huruf al-Quran, dan sebagainya.
Kepada jamaah shalat Idul Fithri juga saya tekankan, bahwa kita harus menerima dan ridha dengan keputusan Allah SWT yang masih mengirimkan virus Corona ke tengah-tengah kita. Keputusan Allah pasti ada maksudnya. Tujuan utamanya adalah agar kita semua semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Itulah sebagian isi khutbah yang saya sampaikan di Hari Raya Idul Fithri 1442 H. 

******

Saat bertemu dengan sesama Muslim, di Hari Raya Idul Fithri kita biasanya mengucapkan “Taqabbalallaahu minnaa waminkum. Ja’alanallaahu wa-iyyaakum minal’aaidin wal-faaiziin”. (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan anda. Dan Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang beruntung dan meraih kemenangan). 
Tentu, setelah menunaikan segenap ibadah di bulan Ramadhan, kita berharap benar-benar “kembali kepada kebenaran”, dan kita termasuk golongan yang beruntung. Selepas Ramadhan, semoga kita bisa memiliki sifat-sifat dari kaum yang dijanjikan Allah tersebut: yaitu mencintai Allah, mengasihi sesama mukmin, memiliki sikap ‘izzah terhadap orang kafir, selalu berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang-orang yang suka mencela. (QS 5:54).
Setelah kita berjihad melawan hawa nafsu selama Ramadhan, kita berharap, meningkatlah derajat taqwa kita. Secara pribadi, ketaqwaan ditunjukkan dengan sikap meningkatnya semangat kita dalam ibadah. Misalnya, kita makin bergiat dalam aktivitas thalabul ilmi, meningkatkan keilmuan kita, sehingga makin memahami ayat-ayat Allah SWT dan semakin meningkat pula kecintaan untuk beribadah kepada Allah SWT. 
Salah satu indikator orang taqwa adalah keyakinan yang mendalam terhadap kehidupan akhirat (wabil-aakhirati hum yuuqinuun). Orang yang taqwa pasti yakin bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar saja. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Karena itu, orang yang taqwa pastilah orang yang bahagia hidupnya, sebab ia tidak akan bersedih yang berlebihan saat tertimpa musibah atau bersenang-senang di dunia sehingga lupa diri gara-gara mendapatkan satu kenikmatan duniawi.

Imam al-Ghazali, dalam kitabnya, Kimmiyatus-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan) mensyaratkan perlunya setiap orang mengenal betul siapa dirinya dan siapa Tuhannya. Bukan sekedar pengenalan fisik, tetapi mengenal siapa dia sebenarnya, dari mana asalnya, untuk apa dia hidup di dunia, dan mau kemana setelah hidup ini. Pengenalan secara mendalam akan hal ini akan membawa seseorang pada keyakinan dan prinsip serta sikap hidup yang bahagia; tidak mudah resah dengan apa yang terjadi di dunia.  

Dunia ini hanya sementara. Manusia mengalami keresahan karena dua hal saja. Resah karena apa yang sudah terjadi, dan kedua, resah karena apa yang kemungkinan akan terjadi, yang dibayangkannya akan menyusahkan dirinya. Karena itulah, kita disuruh banyak-banyak berzikir kepada Allah, jika kita ingin memiliki hidup yang tenang, hidup yang bahagia. Yang lalu, dan sudah terjadi, pastilah terjadi karena izin Allah. Yang belum terjadi, masih belum tentu terjadi. Jika itu terjadi, pasti atas izin Allah jua. Jadi, untuk apa dibuat susah secara berkepanjangan?
Orang Muslim bisa menjadi taqwa, di mana saja dan kapan saja; baik ia hidup di dalam sebuah negara yang menerapkan sistem Islam atau tidak. Orang Muslim di Indonesia bisa menjadi orang taqwa, baik di saat hidup di bawah pemerintahan penjajah Belanda yang kafir atau di bawah Kerajaan Demak. 
Yang akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat nanti adalah masalah iman dan amal ibadah seseorang; bukan soal dia ikut jamaah apa dan berapa besar kelompoknya! Karena itulah, kita patut mengevaluasi, apakah amal ibadah kita selama Ramadhan telah memberikan tambahan nilai yang signifikan bagi perbendaharaan amal baik kita di akhirat nanti? Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang bangkrut (muflis) karena banyaknya amal baik kita yang terpaksa diberikan kepada orang lain, sebab semasa hidup di dunia, kita banyak menzalimi orang lain! 

Sebuah fenomena yang menyedihkan masih menggelayuti kehidupan umat Islam saat Ramadhan dan Idul Fithri tahun ini, yaitu fenomena perpecahan dan saling benci antar sesama Muslim. Di berbagai tayangan video masih tampak antar sesama muslim saling menyerang dan membenci. 
Padahal, sesama Muslim diwajibkan saling mengasihi, saling menasehati, bukan saling mencaci-maki.  Para dai sering berkhutbah, menyampaikan hadits Nabi, tidak beriman seorang diantara kamu, sampai ia mencintai apa yang baik untuk dirinya, juga baik untuk saudaranya.  Katanya, sesama Mukmin itu saudara, seperti satu tubuh.  Jika saudaranya tertimpa musibah, ia ikut merasa sakit. Jika saudaranya senang, ia pun turut senang. Itulah indahnya persaudaraan dalam Islam. Bahkan, kita diajarkan doa yang indah, yang selalu mendoakan saudara-saudara kita yang telah wafat, dan semoga Allah menghilangkan perasaan dendam kepada sesama Muslim.
Apalagi, saat ini, kita sedang menghadapi tantangan yang sangat besar. Andaikan kita bersatu pun, belum tentu mereka menang. Tantangan itu adalah gerakan sekularisme dan liberalisme yang dilaksanakan secara sistematis dan didukung kekuatan global. 
Jika ingin mendapatkan kemenangan dari Allah SWT, maka pertolongan Allah tidak mungkin akan datang jika di dalam hati para aktivis dakwah masih diselimuti perasaan iri hati, dengki, kebencian, dan kesombongan.  

Itulah pentingnya puasa Ramadhan dan semua ibadah yang kita jalani! Dan itulah sebenarnya tujuan hidup kita; bagaimana dengan ibadah yang kita lakukan, kita semakin dekat dengan Allah, semakin mencintai ajaran-ajaran Nabi-Nya, rindu untuk  beramal shalih, dan membenci kemaksiatan dan kemunkaran, serta semakin merasakan kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupan dunia.  

Semua itu hanya bisa tercapai jika kita yakin dengan kehidupan akhirat. Dan itulah salah satu ciri penting orang taqwa: yakin dengan kehidupan akhirat. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 1 Syawal 1442 H).