Amanah dan Misi Besar Jaringan Sekolah Islam Terpadu, JSIT



Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Lenteraumat.com,Depok-
Pada hari Senin (3/5/2021) saya mengisi acara Diskusi Pendidikan bersama pengurus dan aktivis Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), melalui media zoom. Hadir sekitar 130  orang. Acara dihadiri langsung oleh Ketua JSIT, Sekjen JSIT, dan juga para pengurus lainnya.
Meskipun singkat, acara itu saya pandang sangat penting. Sebab, JSIT adalah jaringan sekolah Islam yang sangat  besar. Menurut ketua JSIT, Dr. Muhammad Zahri, jumlah anggota JSIT saat ini mencapai 2300 (dua ribu tiga ratus) sekolah.
Ini kali kedua saya menghadiri acara JSIT. Tahun 2013, saya diundang untuk memberikan Pidato Pembukaan dalam Munas JSIT ke-3 di Palembang. Ketika itu, anggota JSIT masih 1600 sekolah. 

Mengingat jumlah sekolahnya yang besar, tentu wajar jika kita berharap akan peran yang lebih besar lagi dari JSIT dalam memajukan Pendidikan Islam di Indonesia. Dalam website-nya disebutkan visi JSIT: “Menjadi pusat penggerak dan pemberdaya Sekolah Islam Terpadu di Indonesia menuju sekolah efektif dan bermutu.” 
Adapun misinya adalah: (1) Membangun jaringan efektif antar Sekolah Islam Terpadu di Indonesia (2) Meningkatkan efektifitas pengelolaan Sekolah Islam Terpadu di Indonesia, (3) Melakukan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, (4) Melakukan pengembangan kurikulum Sekolah Islam Terpadu di Indonesia, (5) Melakukan aksi dan advokasi bidang Pendidikan, (6) Menjalin kemitraan strategis dengan institusi nasional dan internasional, (7) Menggalang sumber-sumber pembiayaan pendidikan.

Dalam acara 3 Mei 2021 tersebut, saya menyampaikan Peta Jalan Pendidikan yang sepatutnya kita rumuskan dan kita jalankan untuk melahirkan Generasi Gemilang, yakni Generasi 2045.  Lembaga-lembaga Pendidikan Islam kini memiliki peluang besar untuk melakukan hal ini, karena kita sudah memasuki era disrupsi. 
Selama ini, Pendidikan Islam sudah mencitakan dan menjalankan proses pendidikan berbasis keimanan dan bertujuan melahirkan siswa-siswa berakhlak mulia. “Sekolah Islam” tentu berbeda dengan “sekolah konvensional”.  Sekolah Islam didirikan sebagai satu wujud perjuangan untuk perbaikan pendidikan di Indonesia. 

Kepada keluarga besar JSIT saya mengingatkan kembali sejarah perjuangan umat Islam Indonesia di bidang pendidikan. Lebih khusus lagi, perjuangan para tokoh Islam dalam menghadapi Politik Etis Pemerintah Kolonial Belanda, yang mendirikan sekolah-sekolah sekuler model Barat, secara massif. Politik Etis Kolonial dimulai pada tahun 1901, menyusul kemenangan Partai Kristen dalam Pemilu di Belanda. 
Hingga kini, perjuangan menghadapi hegemoni pendidikan sekuler itu masih terus berlangsung. Alhamdulillah, dalam kurun waktu sekitar 30 tahun terakhir, tampak berbagai prestasi pendidikan Islam, khususnya di tingkat taman kanak-kanak, dasar, dan menengah. Yang sangat menonjol adalah tertanamnya rasa kepercayaan dan bahkan rasa bangga kaum Muslim terhadap sekolah-sekolah Islam di berbagai daerah.

Saat ini, kita dengan mudah menjumpai orang-orang muslim berharta yang tanpa malu-malu dan bahkan merasa bangga mengirimkan anaknya ke sekolah Islam atau ke pondok pesantren. Prestasi-prestasi akademik sekolah Islam pun banyak yang membanggakan. Kini dengan begitu mudahnya kita menunjukkan sekolah-sekolah Islam unggulan di kota-kota di Indonesia yang nilai ujian nasionalnya melampaui prestasi sekolah-sekolah non-muslim atau sekolah umum. 
Rasa bangga dan percaya diri kaum muslim terhadap Lembaga-lembaga Pendidikan Islam merupakan aspek penting dan mendasar untuk meraih prestasi-prestasi besar berikutnya. Jika kaum Muslim tidak bangga, tidak percaya diri, dan tidak memiliki ‘izzah terhadap lembaga-lembaga Islamnya sendiri, sulit diharapkan lembaga Islam itu akan berkembang. 

Kepercayaan umat Islam terhadap Lembaga-lembaga Pendidikan Islam, jangan sampai disia-siakan. Perlu disadari,  bahwa kepercayaan itu tidak dicapai dengan mudah. Perjuangan dan pengorbanannya sangat berat. Karena itu, sekolah-sekolah Islam harus tetap istiqamah dalam menjalankan visi-misi pendidikannya. 
Kepada keluarga besar JSIT saya juga mengajak untuk mulai menanamkan rasa bangga dalam diri para siswa JSIT terhadap Perguruan Tinggi Islam.  Saat ini, sejumlah anggota JSIT sudah memiliki Perguruan Tinggi Islam yang berkualitas. Perguruan Tinggi ini didirikan dengan tujuan mulia untuk melahirkan para sarjana muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, serta memiliki profesionalitas dalam bidang sains dan teknologi.
Kualitas Perguruan Tinggi Islam di JSIT itu tidak kalah dengan kualitas Perguruan Tinggi Negeri. Tetapi, mungkin karena kurang dipahami, anak-anak sekolah Islam belum menjadikannya sebagai tujuan utama kuliahnya. Masih banyak yang berpikir, bahwa Perguruan Tinggi yang bagus adalah yang namanya masuk ranking-ranking atas Daftar Perguruan Tinggi terbaik, versi pemerintah atau lembaga-lembaga pemeringkatan tertentu. 

Biasanya dalam pemeringkatan Perguruan Tinggi, aspek iman, taqwa, akhlak mulia, dan juga aspek pemikiran Islam, tidak dijadikan sebagai indikator pemeringkatan. Karena itulah, secara umum, masih banyak sekali sekolah-sekolah Islam yang berpikir, bahwa sekolah bermutu adalah yang lulusannya banyak diterima di Perguruan Tinggi Negeri. 

Inilah diantara amanah dan misi besar JSIT ke depan. JSIT perlu mermuskan konsep Perguruan Tinggi Ideal menurut Islam, dan berani meyakinkan para anggotanya, bahwa para siswanya harus mengutamakan pilihannya untuk kuliah di Perguruan Tinggi yang berkualitas tinggi --  menurut kriteria Islam. 

Karena sudah memakai identitas Islam, maka pemikiran Islam harus diutamakan; bukan pemikiran sekuler. Kriteria terpenting Perguruan Tinggi terbaik, adalah yang mendidik mahasiswanya menjadi sarjana-sarjana yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, professional, dan berjiwa pejuang. 
Jangan sampai alumni sekolah-sekolah JSIT salah paham dan sesat pikir. Karena mengejar gengsi dan sukses materi, mereka rela mengorbankan aqidah dan akhlak mulia; bangga menjadi manusia yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. 
Akhirul kalam, selamat berjuang JSIT! Semoga Allah meridhai dan membimbing perjuangan kita. Aamiin. (Depok, 6 Mei 2021).

Editor: Sudono Syueb