MENTERI NADIEM DAN RADEN RIDWAN



Oleh: Dr. Adian Husaini
(www.adianhusaini.id)

Lenteraumat.com,Depok-
Dua hari ini (28-29 April 2021), ada dua peristiwa penting terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Satu, pelantikan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud Ristek. Dua, promosi Raden Ridwan Hasan Saputra, sebagai Doktor Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Pada artikel tanggal 17 April lalu, saya menulis: “Apakah Menteri Nadiem Makarim perlu diganti? Menurut pendapat saya – yang belum tentu tepat – Nadiem Makarim tidak harus diganti, jika ia mampu dan berani melakukan perubahan dan perbaikan mendasar dalam dunia pendidikan kita. Jika menteri muda hebat bernama Nadiem Makarim hanya melakukan hal-hal yang “biasa-biasa saja” dalam dunia pendidikan, maka untuk apa ia menjadi Mendikbud?”

Jadi, sebagai praktisi pendidikan, saya hanya berharap, bahwa Menteri Nadiem Makarim berani melakukan perubahan mendasar dan terobosan-terobosan besar dalam dunia pendidikan kita. Sebagai Menteri yang berasal dari jalur professional, kita bisa berharap Nadiem tidak terbebani dengan beban birokrasi pendidikan dan juga tidak tersandera oleh kontrak-kontrak politik dengan berbagai kekuatan politik tertentu. 
Program “Merdeka Belajar” dan “Kampus Merdeka” yang telah ditetapkan perlu diteruskan dengan lebih aplikatif. Konsep standar mutu pendidikan perlu ditinjau ulang. Jangan terlalu terjebak dengan aspek formalisme pendidikan yang menjenuhkan dan mematikan kreativitas para guru dan siswa; begitu juga dosen dan mahasiswa. 
Kita menunggu gebrakan selanjutnya dari Menteri Nadiem Makarim, setelah pidatonya di UI Depok, 4 Desember 2019: “Kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi; kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya; kita memasuki era di mana akreditasi tidak menjamin mutu;  kita masuk era di mana masuk kelas tidak menjamin belajar.”
Hingga kini, masih ada peraturan yang mengekang sekolah-sekolah dan kampus-kampus di Indonesia untuk melakukan inovasi pembelajaran dan pendidikannya. Sepatutnya, di era disrupsi saat ini, sekolah-sekolah sudah dimungkinkan untuk melakukan pembalajaran berbasis online (daring). Proses itu sudah menjadi asatu kebutuhan, dan tidak bisa dihindari lagi. 

Silakan saja sekolah berkreasi dalam menyelenggarakan proses pendidikannya. Pemerintah tidak perlu terlalu jauh mengurus aspek-aspek teknis pendidikan dan pembelajaran. Di era disrupsi, mungkin dalam sepekan, para siswa cukup satu atau dua hari saja ke sekolah. Sebab, seluruh proses pembelajaran sudah bisa dilakukan secara daring. Dua hari di sekolah itu, lebih dimaksudkan untuk pembinaan akhlak dan ibadah para siswa. Dengan itu, proses pembelajaran bisa berlangsung lebih mudah dan murah. 

Karena itu, kita tunggu gebrakan-gebrakan kreatif Nadiem Makarim dalam dunia Pendidikan, riset dan teknologi. Nadiem sudah terbukti mampu melakukan terobosan dalam bidang bisnis. Kita memerlukan solusi untuk pendidikan kita yang tidak biasa-biasa saja. Perlu pemikiran kreatif yang out of the box. 
 
Presiden dan Menteri Pendidikan datang silih berganti. Tapi, seperti tiada perubahan yang berarti. Bahkan, hal-hal yang sangat mendasar dalam pendidikan kita, seperti pembentukan sikap jujur, amanah, kerja keras, kasih sayang pada sesama, terasa semakin jauh dari harapan. Dunia media massa dijejali dengan berita-berita tentang pertikaian dan kebencian antar warga masyarakat. 
Padahal, kementerian ini namanya: Kementerian Pendidikan; bukan Kementerian Pengajaran. Jika kementerian ini hanya mengurusi soal pembelajaran di sekolah, maka sebaiknya namanya diganti menjadi “Kementerian Urusan Persekolahan”. Sebab, kata “Pendidikan” (opvoeding) menekankan pada proses penanaman nilai-nilai kebaikan dalam diri manusia. Dalam Bahasa Islam, itu dikenal sebagai penanaman nilai-nilai adab atau akhlak mulia.  

Jadi, kita tunggu saja apa yang akan dilakukan oleh Menteri Nadiem Makarim setelah diangkat lagi sebagai Mendikbud-Ristek RI. Semoga ada banyak perbaikan mendasar. 

*****

Pada 29 April 2021 pagi, Universitas Ibn Khaldun Bogor meluluskan doktor Pendidikan Islam yang ke-257. Sidang promosi doktor kali ini cukup istimewa. Meskipun ujian secara daring, pesertanya mencapai 140 orang. Maklum, yang dipromosikan adalah salah satu “anak ajaib Indonesia”, yaitu Dr. Raden Ridwan Hasan Saputra (RHS).

Masyarakat mengenalnya sebagai pakar dan pelatih olimpiade matematika internasional. Jasanya dalam bidang pengembangan matematika di Indonesia telah diakui secara luas, sampai ke manca negara. Ia telah mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Pendidikan, dan juga pernah dinobatkan sebagai Tokoh Perubahan Harian Republika.

RHS menulis disertasi doktornya dengan tema: Pengamalan Tujuh Sunnah Nabi dan Korelasinya dengan peningkatan Higher Order Thinking Skill (HOTS) di bidang matematika. Tujuh sunnah nabi itu ialah: shalat tahajud- witir, shalat jamaah, shadaqah, shalat dhuha, membiasakan berwudhu, puasa Senin-Kamis, dan tadabbur al-Quran. 

Dengan jumlah sampel mencapai ribuan, RHS berhasil membuktikan, bahwa ada korelasi positif antara pengamalan tujuh sunnah nabi tersebut dengan peningkatan kualitas HOTS di bidang matematika. Namun, RHS mengakui, bahwa korelasi itu belum tentu merupakan hubungan sebab akibat. Dalam disertasinya, ia juga mencoba menguraikan secara rasional, hubungan antara pengamalan tujuh sunnah dengan HOTS. 
Penelitian RHS itu setidaknya membuktikan, bahwa ada korelasi positif antara kesalehan individu dan ketekunannya dalam ibadah, dengan prestasi akademik. Jadi, agama bukanlah faktor penghambat untuk berprestasi tinggi dalam akademik, seperti matematika. Konsep ini bisa dikembangkan lebih lanjut. 

Sebagai salah satu penguji disertasi, saya menyarankan, RHS melanjutkan kajiannya tentang konsep dan metode berpikir dalam Islam. Konsep epistemologi integral yang ditulis oleh Imam an-Nasafi bisa dijadikan sebagai salah satu dasar analisisnya. Bahwa, kemampuan berpikir tinggi memang bisa diraih dengan jalan taqwa. Inilah anugerah Allah kepada orang-orang yang bertaqwa. 
Tapi, yang istimewa pada sosok RHS, bukan hanya karena kemampuan matematikanya. Alumni IPB ini dikenal sebagai ilmuwan unik. Lembaga Pendidikan MIPA yang dibentuknya menerapkan jargon: “Membayar Seikhlasnya”. Sudah belasan tahun berlangsung, lembaganya tetap eksis. 

Dalam sambutannya,  usai dinyatakan lulus sebagai Doktor dalam bidang Pendidikan,  RHS menyatakan, bahwa ia mempunyai tekad untuk mengejar doktor keduanya, yaitu Doktor bidang Tafsir al-Quran. Ridwan bertekad untuk terus belajar dan belajar. 
Sosok-sosok seperti Ridwan Hasan Saputra inilah yang perlu diperbanyak di negeri kita. Kalau saya presidennya, RHS langsung saya angkat jadi Menteri Pendidikan. Sebab, ia terbukti memiliki ilmu yang bermanfaat dan punya kemampuan mendidik yang tinggi. Ia bukan hanya mengajar, tetapi juga memberikan contoh, bagaimana berilmu dan berakhlak mulia. Wallahu A’lam bish-shawab. (Bogor, 29 April 2021).

Redaksi: Sudono Syueb